Rabu, 21 Juli 2010

First Chapter

Salam, Pembaca!
Ini adalah chapter pertama oretan, ehm, novel, saya, mohon dibaca, dan diberi komentar..
Happy reading! :))

>>
Jayden nyengir di depan pintu rumahku, membawa setoples keripik kentang. Karena sudah mengenal Jayden selama sepuluh tahun – sepuluh tahun yang membosankan – maka aku yakin bahwa dia pasti menginginkan sesuatu.

"Oke, kau mau apa?" tanyaku langsung.

"Menonton siaran langsung Indonesia Open di rumahmu," katanya.

"Ayah dan Bunda pergi lagi?" tanyaku lagi. "Oh, baiklah, masuk."

"Hehehe. Nih," dia menyodorkan toplesnya padaku. Aku sih menyambutnya dengan senang – persediaan keripik di rumahku sudah hampir habis. Sayang kan kalau rezeki ditolak.

Ibuku muncul dari dapur, tampak lelah. Beliau sedang membuat segunung besar donat untuk hajatan tetangga di RT sebelah, yang sebelum Jayden mengetuk pintu tadi, masih kubantu membuat adonan. Jayden mengibas-ngibas rambutku, yang berlumur tepung, katanya.

"Kyra, Mama ke warung sebentar. Bu Ayu dan Bu Loli sedang membentuk donatnya di dapur. Oh, hai, Jayden. Apa kabar?" tanya Mama, menyambut tangan Jayden, dan tanpa mendengar jawaban Jayden, Mama meneruskan, "tolong keluarkan gula halus, mentega, keju dan meisyes dari lemari makanan ya, Kyra." Mama keluar rumah sembari tersenyum pada Jayden.

"Yuk," ajakku pada Jayden, yang mengamatiku seolah aku ini makhluk asing yang baru turun dari UFO. "Kenapa kau?"

"Kau berantakan, tahu."

Secara teknis aku merasa diriku sama sekali tidak berantakan; okelah rambutku kena tepung sedikit, tapi aku mengikat rambutku dan tidak berjuntai-juntai menutupi wajahku; kaos yang kupakai kena noda telur dari serbet yang tadi kugantungkan di bahuku agar tidak kerepotan mengambil serbet lain lagi; rok selututku bernoda coklat –aku melelehkan dark chocolate dan saat menuangnya, pengaduknya kulambaikan hingga coklatnya menetes di rokku.

"Tidak, kok." Aku meletakkan toples di meja tamu. "Duduklah dulu. Aku mau ke dapur sebentar. Kau mau minum apa?"

"Biar aku bantu," kata Jayden. "Kau punya sirup jeruk?"

"Ada di kulkas."

Aku dan Jayden beriringan menuju dapur, menemui Bu Ayu dan Bu Loli yang sedang membentuk donat. Mereka tetangga-tetangga Mama yang ikut membantu membuat donat.

"Eh, ada Jayden rupanya," kata Bu Loli. Selama aku dan Jayden bersahabat, Bu Loli – yang mengamati perkembangan dan pertumbuhan kami berdua – selalu menyindir-nyindir bahwa suatu saat Jayden akan menjadi pacarku. Bu Loli tak tahu apa-apa tentang kami berdua.

"Tante," Jayden menyapa Bu Loli dan Bu Ayu yang kelihatan sibuk dengan adonan donat di tangan masing-masing.

"Liburan kemana saja?" tanya Bu Ayu ramah.

"Ke rumah Kyra, ke toko buku, di rumah saja, Tante..." jawab Jayden sembari tersenyum.

"Nggak ngajak Kyra kencan?" tanya Bu Loli.

Aku tersedak air yang sedang kuminum. "Apa, Tante?" tanyaku susah payah sementara Jayden menepuk punggungku.

Bu Loli dan Bu Ayu tertawa.

Jayden menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menuju kulkas untuk membuat sirup jeruk.

Setelah aku mengeluarkan barang-barang lain yang nanti akan digunakan sebagai toping di atas donat, aku mengambil sebungkus kacang atom dari kulkas; baru kubeli kemarin dan belum sempat kumakan.

Semenit kemudian aku dan Jayden sudah berada di sofa tepat di depan TV, menonton pertandingan Indonesia Open yang disiarkan langsung dari salah satu stasiun televisi swasta. Kami berdua sama-sama pecinta badminton sejak SMP – dan selama itu pula kami selalu berdebat tentang atlet bulutangkis yang paling populer. Aku mendukung Taufik Hidayat, sementara Jayden mengagumi Chandra Wijaya.

Dan ketika SMA pun muncul topik perdebatan baru lagi di antara kami: antara Lilyana Natsir atau Greysia Polii. Aku mati-matian menyukai Lilyana, sementara Jayden cinta pada wajah imut Greysia Polii. Atau waktu aku bilang Simon Santoso lebih cakep daripada Sony Dwi Kuncoro, Jayden selalu mematahkan hal ini dengan berkata bahwa Sony pernah mengalahkan Simon; aku bilang cakep dan kalah-menang itu nggak ada hubungannya.

Entahlah.

Aku senang mempunyai sahabat seperti Jayden. Dia tipe yang tahu-segalanya. Diajak bicara apa saja selalu nyambung. Seperti waktu kubilang bahwa Tsubasa tak mungkin terkalahkan, Jayden memberikan fakta bahwa Hyuga sudah melatih tendangan macannya, dan pasti kali ini Tsubasa kalah. Tapi kalau aku perhatikan, Tsubasa TIDAK PERNAH KALAH.

Mungkin karena faktor kami-sama-sama-anak-tunggal-yang-orangtuanya-sibuk-berat, jadi aku merasa ada satu hubungan yang kuat antara kami. Seperti ada tali tak terlihat yang menyatukan kami berdua. Yang membuat kami jadi merasa harus saling berbagi.

Secara teknis memang orang tua kami berdua sama-sama sibuk, meskipun dalam konteks yang berbeda. Ibuku sudah tiga tahun ini menjadi pembuat kue untuk acara-acara yang kerap diadakan di kompleksku; ayahku pulang-pergi Jakarta-Bandung hampir tiap hari untuk bertemu klien, dan aku nyaris tak punya waktu untuk kami sekeluarga pergi bersama ke tempat wisata, atau berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan sekalipun. Ayah Jayden, sementara itu, redaktur koran lokal dengan ibunya adalah pengisi rubrik fashion. Setiap hari mereka ke kantor koran dan pada akhir pekan sering keluar kota untuk mencari bahan-bahan baru pengisi artikel koran. Jayden malah tak punya waktu sama sekali untuk pergi keluar bersama keluarganya.

Jadilah kami berdua tersisihkan; dan akhir pekan biasanya kami lewatkan dengan menyewa DVD, joging, ke toko buku, atau mengurus blog kami. Kami punya blog yang kami urus berdua, yang isinya kebanyakan tulisan-tulisan kami tentang beragam topik yang muncul setiap saat. Di sekolah, tak ada yang tahu bahwa kami berdua-lah yang mengurus blog itu, karena kami memakai nama samaran: aku menggunakan nama Renata dan Jayden memutuskan bahwa nama Randy cukup bagus. Kugambarkan Renata adalah seorang gadis SMA yang sempurna – orangnya cantik, manis, dan cerdas; kedua orangtuanya adalah pemilik perusahaan besar; setiap hari mereka makan di meja makan bersama; tiap malam Mama Renata selalu mengecup kening Renata sebelum tidur; dan dia punya pacar yang digemari cewek-cewek di sekolahnya. Sementara Jayden menggambarkan Randy sebagai pemain band, belum punya pacar, tapi tampan, cuek dan ketua OSIS di SMA-entah-dimana.

Satu-satunya yang sesuai dengan dunia nyata adalah bahwa Renata dan Randy bersahabat, seperti aku dan Jayden. Oh, dan tentang pemain band itu. Jayden punya band bersama teman-temannya di sekolah; aku adalah vokalisnya. Anggota band Jayden cowok semua, tapi mereka baik-baik kok. Mereka menghormatiku sebagai perempuan. Ini karena kami sudah saling kenal sejak SMP.

Tentang blog itu, tak jarang tulisan dan pendapat kami sering menjadi trendsetter di kelas, bahkan di sekolah. Seperti ketika aku menulis bahwa permainan Lee Yong Dae keren sekali saat Thomas dan Uber Cup 2008, cowok itu langsung jadi tenar di kelas. Separo gadis di kelas sepertinya mempunyai satu folder penuh foto-foto Yong Dae yang mereka dapat dari internet. Separonya lagi memiliki satu folder penuh foto-foto dan artikel tentang Simon Santoso setelah mereka membaca artikel yang ditulis Randy – bahwa Simon bisa saja menjadi Ricky Subagja kedua. Aku tidak sependapat. Bagiku Ricky Subagja tidak akan tergantikan. Jangan harap ada yang bisa menjadi Ricky Subagja kedua.

Kalau sudah menonton bulutangkis, biasanya kami sering berteriak-teriak sendiri ketika smash dari pemain andalan Indonesia menukik tajam dan jatuh di daerah permainan lawan. Apalagi kalau lawan sampai jatuh karena tidak bisa mengambil kok yang jatuh di luar jangkauannya. Sering aku berteriak saat Markis Kido melakukan netting keren yang tidak sempat dicapai lawannya. Pada saat itu biasanya Jayden menegurku.

"Dia tidak bisa mendengar teriakanmu, Kyra," katanya kalem.

Aku manyun. Lalu membalasnya waktu dia berteriak "GRACE!! KAMU PASTI BISA!"

"Dia tidak bisa mendengar teriakanmu, Jayden," kataku kalem.

Gantian dia yang manyun. Kalau sudah seperti itu aku biasanya memukulnya dengan bantal sofa, yang langsung dibalasnya. Akhirnya acara nonton pertandingan bulutangkis berubah jadi acara gebuk bantal, sampai kami mendengar komentator berkata dengan gembira, "YAAA! Sebuah drop shot yang cantik dari Maria Kristin, yang tidak bisa dijangkau dan jatuh di daerah yang kosong! Yak, match point untuk Indonesia!" disertai sorakan gembira penonton Indonesia yang bergemuruh di stadion. Kami langsung duduk diam, dan ikut berteriak-teriak sampai serak saat Maria Kristin melakukan smash indahnya.

Begitulah. Mungkin karena kami tumbuh dan berkembang bersama, dan orang tua kami juga lumayan dekat, sehingga banyak kesamaan yang kami dapatkan dari masing-masing.

Kami sedang berteriak-teriak menyemangati Indonesia yang sedang melawan Jepang waktu Bu Ayu datang dan memintaku membantunya.

"Kyra? Bisa bantu Tante?" tanyanya, tanpa menghiraukan kami. Teman-teman Mama yang datang ke rumah biasanya sudah mengenalku, sehingga tidak heran melihat aku melonjak-lonjak di depan televisi saat menonton pertandingan bulutangkis sambil sesekali dilempari Jayden dengan bantal. Dia jadi tidak bisa melihat pertandingan, kan.

"Ya, Tante."

Aku mengikutinya ke dapur, meninggalkan Jayden yang mulai membuka toplesnya dan mencomot keripik.

Selama beberapa saat aku membantu kedua wanita itu menggoreng donat di wajan superbesar. Lalu Mama pulang membawa beberapa batang coklat putih.

"Mama lupa kalau persediaan coklat putihnya habis. Tolong lelehkan, Kyra."

Aku bisa mendengar teriakan-teriakan Jayden dari ruang keluarga. Hatiku mencelos waktu dia mengeluh keras; pasti angka untuk Jepang. Hatiku juga mencelos waktu Jayden berteriak ’yeeaaah!’. Pasti Taufik berhasil merebut angka lagi. Tapi yang membuat jantungku serasa naik ke tenggorokan adalah saat kudengar keluhan keras Jayden yang berturut-turut sebanyak dua kali. Sepertinya Jepang unggul.

Setelah aku membantu Mama dan Bu Ayu dan Bu Loli di dapur, aku kembali ke ruang keluarga. Separo keripik kentang di toples sudah habis.

"Kenapa, kalau begitu," kataku gusar, merebut toples dari pelukan Jayden, "kau capek-capek membawanya kesini kalau untuk kau makan sendirian?"

"Eh, maaf-maaf. Lagi seru-serunya nih."

Aku mengambil posisi di sebelah Jayden yang menatap layar televisi. Ternyata rubber set; Jepang berhasil mengalahkan Indonesia di game kedua.

“Taruhan, pasti setelah ini Taufik bakal sering mengeluarkan smash-nya," kata Jayden.

"Aku nggak mau taruhan. Aku sudah nggak punya uang lagi sejak beli kado buat Gerry kemarin," tolakku. Gerry adalah pemain bass di band kami. "Lagipula dari set pertama memang Taufik sering mengeluarkan smash-nya!"

"Tapi, coba kau lihat poin yang didapat Jepang," kata Jayden.

Game pertama, 21-16 untuk Indonesia. Game kedua, 26-24 untuk Jepang. Pasti game ini seru sekali. Game ketiga untuk sementara Jepang unggul dengan 10-4.

"Ya ampun," kataku. Dan sementara aku mengatakan itu, Taufik kembali melakukan smash keras, yang, tentu saja, masuk.

Jayden meraih bungkus kacang atom yang sudah terbuka. "Sayang kau tidak melihat game kedua. Seru sekali. Sport jantung."

"Aku tahu. Teriakanmu kencang sekali tadi. HEY! Kau lihat yang tadi?"

"LIHAT, tentu saja!"

Taufik baru saja melakukan drop shot sangat cepat yang tidak bisa diantisipasi pemain Jepang. Stadion bergemuruh oleh teriakan suporter Indonesia. Teriakan Indonesia-Indonesia muncul lagi. Aku dan Jayden ikut berteriak selama beberapa saat, dan kemudian Taufik memberi kesempatan pendukungnya untuk menggemuruhkan stadion dengan melakukan smash yang mengenai bahu pemain Jepang. Kali ini skor 10-7 untuk Jepang.

Saat pemain Jepang melakukan serve yang gagal karena mengenai net, aku memutuskan untuk membuat tulisan tentang pertandingan ini. Kutanyai Jayden apakah dia membawa modemnya, dan dia mengangguk dengan mata masih tertuju ke layar televisi, dimana kok yang dikembalikan Taufik keluar daerah permainan Jepang. Aku pergi untuk mengambil laptopku dari kamar.

Waktu aku kembali, skor sudah 12-11 untuk Indonesia.

"CEPAT SEKALI!" kataku ngeri, sambil meminta tolong Jayden memasang charger laptopku.

"Tentu saja," Jayden nyengir sembari memasukkan kabel ke stop kontak. "Pemain Jepang itu banyak melakukan kesalahan sendiri."

Tepat setelah Jayden berkata seperti itu, Jepang memukul kok ke sembarang arah, yang mengakibatkan Indonesia mendapat satu angka lagi.

"Pukulan Taufik terlalu cepat, pemain Jepang itu melakukan yang tadi secara reflek," komentar Jayden.

Susah sekali mengetik artikel sementara mataku tetap tertuju pada pertandingan yang menarik itu. Sesekali aku ikut menjerit, "aaah" dan tanpa sengaja tanganku mengetikkan "aah" juga di laptop. Jayden memang menggantikanku selama beberapa saat, tapi menurutku dia tidak melakukan kemajuan apapun di tulisannya, dia cuma menulis dua kalimat dan setelah itu tangannya berhenti mengetik sama sekali. Jayden malah merogoh kacang atom.

Ketika skor sudah mencapai 20-20, aku dan Jayden mengamati layar televisi tanpa berkedip. Dan ketika Taufik melakukan netting menyilang yang keren, aku menahan napas untuk ikut berteriak kegirangan. Satu angka lagi dan Indonesia memastikan langkahnya maju ke semifinal.

Tapi rupanya tidak cukup satu angka lagi, karena Jepang berhasil menyamakan kedudukan menjadi 21-21. Persaingan sangat ketat sekali ini membuat pendukung Indonesia terus meneriakkan yel-yel semangatnya. Aku berteriak ketika Taufik melakukan netting cepat yang gagal diantisipasi Jepang.

Dan akhirnya stadion seolah bergetar karena gemuruh sorakan suporter Indonesia setelah Taufik melakukan jumping smash yang mengesankan untuk mengakhiri perlawanan pemain Jepang yang sampai terjatuh untuk mengembalikan kok – yang gagal, karena pukulannya tidak menjangkau kok. Aku bisa melihat para pendukung Indonesia berdiri bertepuk tangan sambil meloncat-loncat. Jayden berteriak keras, yang bisa aku tolerir seandainya dia tidak berteriak di telingaku sambil memelukku.

Aku mendorongnya keras. "Nih, ketik," kataku, menyorongkan laptop ke depannya.

"Aku lagi malas ah," tolaknya, sambil memandang Greysia Polii bersama Jo Novita yang akan bermain untuk partai ganda putri.

Aku menggebuknya dengan bantal. Dia membalasnya dengan bantal lagi. Kami saling gebuk bantal di atas sofa, berlarian, sampai Mama, Bu Ayu, dan Bu Loli datang dan bertanya dengan serentak:
"Kalian sedang apa?"
* * *

Di tempat lesku keesokan harinya anak-anak sibuk membicarakan pertandingan menarik semalam. Tentu ditambah dengan sedikit kalimat-kalimat, yang, kalau aku perhatikan, mirip kalimat-kalimat yang Jayden tulis di artikel yang kami posting kemarin.

"Taufik main keren banget! Lihat netting silangnya?"

"Smashnya tajam. Kemarin aku lihat kecepatannya sampai 268 km/jam!"

"Pertandingan game kedua seru banget! Sport jantung!"

"Tapi untunglah kita menang!"

Aku cuma tersenyum menanggapi mereka. Julie memandangku dan bertanya, "Kenapa kau nyengir, Kyra?"

Aku tak sadar bahwa senyumanku lebih mirip seringai. "Eh, tidak kok."

Sebuah teriakan manja memanggilku. "KYYYRAAA!"

Aku agak terdorong ke belakang saat seorang gadis tiba-tiba datang dan memelukku erat. Azka. Sahabatku yang lain. Dan maksudku benar-benar hanya dialah sahabat perempuan yang kupunya. Tumbuh besar bersama Jayden, sedikit banyak, membuatku sedikit tomboy. Misalnya saja, aku lebih suka ngumpul bareng anak-anak cowok teman Jayden. Aku lebih merasa lega ketika bercerita tentang masalahku kepada Glenn, misalnya – drummer di band Jayden – dan dia kemudian memberiku sedikit saran, yang efektif. Kalau aku bercerita kepada Julie, dia pasti langsung berceloteh dan bukannya memberiku saran, dia malah balik bertanya padaku tentang masalahnya.

Azka berbeda. Dia agak manja karena dia anak tunggal – aku dan Jayden juga anak tunggal, tapi aku tidak manja, dan aku sama sekali tidak bisa membayangkan Jayden sebagai cowok yang manja – dan orangtuanya kaya sekali. Azka punya sopir yang selalu mengantar-jemput dia ke sekolah, ke mall, ke tempat les, bahkan ke rumahku. Tapi dengan bicara pada Azka selalu membuatku merasa lebih lega – hal yang tidak bisa kudapatkan dari gadis lain. Azka pintar menghibur. Dia juga biasanya mengabaikan kenyataan bahwa dia anak orang kaya, dan aku orang yang biasa-biasa saja.

Jadi intinya aku menyayangi Azka lebih dari anak perempuan manapun.

Aku membalas pelukan Azka dan beberapa saat kemudian dia melepasnya. "Bagaimana liburanmu?"

"Sepi," kata Azka, lalu mengambil kursi di sebelahku. "Kau bagaimana?"

"Ah, biasa saja," kataku. "Seperti biasa, membantu Mama membuat kue, mengurus blog, membuat beberapa komik."

Cuma Azka, satu-satunya orang di sekolah yang tahu kalau aku dan Jayden mengurus blog yang jadi trendsetter di sekolah.

"Kau sih enak," Azka mencubit bahuku. "Aku tak pernah diizinkan masuk dapur."

Saking sayangnya pada anak perempuannya, ibunya Azka tak pernah mengizinkan Azka masuk dapur. Oh, memang apa sih yang akan terjadi pada anak perempuan di dapur? Tanpa sengaja menusuk dirinya sendiri? Paling banter jarimu teriris, yang aku yakin akan jarang terjadi pada orang yang baru saja masuk dapur, karena pertama kali aku mengiris bawang, aku memegangi bawang tepat di ujungnya, jauh dari mata pisau. Aku tak tahu apakah ibu Azka terlalu baik atau apa.

Aku tidak bisa membayangkan ibuku melihatku masuk dapur dan berkata ’Kyra, jangan masuk dapur Nak, nanti kamu tertusuk’. Bukannya ibuku tidak sayang padaku; aku tahu benar Mama sayang padaku, itu sebabnya ibuku sering memintaku membantunya memasak – untuk masa depanku nanti. Ibuku membuat kewajiban menjadi permintaan bantuan, seperti ’Kyra, tolong Mama mengiris bawang, nak’ atau ’Tolong Mama rebuskan air’ atau ’Potong-potong kacang panjang dan wortelnya, ya’. Sehingga aku pun bisa karena biasa. Azka tidak bisa karena tidak biasa.

Kau boleh saja menyebutku kejam, tapi aku kasihan pada anak perempuan yang bahkan menginjak lantai dapur saja pun tak pernah. Maksudku, bagaimana nasib mereka kalau sudah menikah? Apa yang akan mereka sajikan pada suami mereka? Mie instan setiap hari? Atau makan di luar rumah setiap hari? Aku tidak mau seperti itu. Aku mau menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik. Keinginan ini muncul sejak aku kelas satu SMP; Mama waktu itu diopname di rumah sakit karena sakit typus, Papa menemaninya seharian, dan aku di rumah bersama Tante Rika, adik Mama yang waktu itu akan menikah. Aku sudah lupa cerita bagian awalnya, yang jelas Tante Rika berkata, "masa anak perempuan nggak bisa masak? Ayo sini, bantu Tante."

Ya ampun, aku benar-benar tersindir. Okelah, dari SD aku sudah bisa masak mie rebus, mie goreng, yang standar-standar sajalah. Pekerjaan rumah bisa kulakukan. Masak nasi aku juga sudah bisa. Tapi memasak, dalam hal ini membuat masakan, seperti tumis, sup, dan sebagai-sebagainya yang biasa kita makan sebagai lauk, aku memang belum mahir.

Sejak saat itu aku mulai ikut masak bersama Tante Rika selama Mama di rumah sakit, dan kulanjutkan sampai Mama pulang. Tante Rika bilang, "nggak ada yang namanya ’belajar masak’. Yang ada, kamu harus bantu Mama masak. Nanti, kamu pasti terbiasa. Akhirnya, jadi ’bisa masak’. Oke?" Tante Rika memberiku kedipan matanya. Aku mengangguk dengan semangat.

Aku juga dilarang pilih-pilih makanan. Pokoknya, apa yang Mama masak, harus dimakan. Untung sih, karena masakan Mama selalu enak. Mama selalu mengajariku untuk menghargai orang lain. Akhirnya aku terbiasa makan segalanya. Jayden juga begitu. Dia diajari untuk makan apa yang ada di rumah. Kalau Jayden minta lele goreng, misalnya, dan di rumah hanya ada ayam, dia harus terima. Kalau tidak mau makan ya sudah.
Kami berdua sudah diajari mandiri sejak kecil. Dan semakin terbiasa sejak kedua orang tua kami sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Lain halnya dengan Azka. Dia bisa minta apa saja untuk makan malam dan pembantunya akan segera memasakkannya. Kadang ibunya pribadi menawarinya makanan yang dia sukai, kalau makan malam itu bukan makanan kesukaan Azka.

Mungkin itu yang membuat Azka agak manja.

"Cobalah sekali-kali masuk dapur dan buat mie instan," saranku.

Azka mengangkat bahu. "Mama tidak izinkan."

Azka selalu begitu – dia bilang dia menyesal tidak diizinkan masuk dapur, tapi dia sendiri tidak pernah melakukan hal yang bisa membuatnya diizinkan masuk dapur. Dia tidak meyakinkan orangtuanya. Kalau Jayden, orangtuanyalah yang meyakinkan dia bahwa dapur bukanlah untuk cewek saja.

"Oh, baiklah kalau begitu," ujarku.

"Kita pergi yuk nanti," ajak Azka, mengeluarkan bukunya. "Ada diskon di butik sebelah cafe."

"Aku tidak punya uang lagi sejak ulang tahun Gerry," tolakku halus.

"Yaaah," kata Azka, dan dia benar-benar menyesal. "Kalau begitu kita lihat-lihat buku baru saja, bagaimana?"

"Oke, hanya melihat saja?" ujarku memastikan. "Tapi aku harus pulang cepat. Jayden dan aku akan menonton Indonesia Open di rumahku."
"Sip lah."

Ini dia yang kusuka dari Azka. Dia tidak pernah menggembar-gemborkan kekayaannya di depan teman-temannya. Mungkin karena dia terlalu kaya, sehingga tingkahnya biasa saja. Dia jarang menawariku untuk membayarkanku sesuatu; aku juga tidak pernah meminta dia untuk membayarkan sesuatu. Kami adalah teman seumur hidup. Teman tidak bisa dibeli dengan uang. Motto yang kami pegang sejak membaca komik Detective Conan.

* * *
Continue reading First Chapter

Selasa, 20 Juli 2010

Untitled

Salam, Pembaca!
Puisi ini tak ada judulnya, karena saya merasa nggak ada judul yang pas untuk puisi ini.
Happy reading! :))

>>
Kenapa ku benci hujan?
sebab hujan membuatku merasa hilang
sebab hujan mengirimku ke balik awan
sebab hujan membawaku jauh terbuang

Kenapa ku ragu akan senyuman?
sebab senyuman berikan kebahagiaan
sebab senyuman kirimkan harapan
sebab senyuman bawakan impian

Kenapa ku takut sendirian?
sebab sendiri berarti terluka
sebab sendiri berarti kesepian
sebab sendiri berarti berduka

Kenapa ku takut nyanyikan lagu kehidupan?
sebab ku takut akan ujian
sebab ku takut tak bisa bertahan
sebab ku takut kehilangan

tolong, tolong, tolong
jangan pergi, jangan pergi, jangan pergi
bantu aku untuk menatap dunia
Continue reading Untitled
, , , , ,

Surat Dalam Secarik Perkamen (II)

Salam, Pembaca!

Ini adalah surat Lucy Rothbelle yang kedua - fanfiction lain lagi dari saya yang sedang berkhayal tingkat tinggi. Ehem, sebaiknya kamu membaca surat Lucy yang pertama (kalau kamu belum membacanya) di posting berjudul 'Surat Dalam Secarik Perkamen'. Oke? Ini untuk memudahkan kamu mengerti surat yang kedua ini.
Happy reading! :))


>>
(teks dalam secarik perkamen yang diberikan Lucy Rothbelle kepada Draco Malfoy sesaat sebelum Draco pergi untuk mengecek Kamar Kebutuhan)


-Dari L.R. kepada D.M-

Kurasa aku tak akan pernah sebahagia ini seumur hidupku. Kau datang mencariku sesaat setelah kau keluar dari rumah sakit. Kau bertanya padaku apakah perasaanku padamu itu sungguh-sungguh, dan kujawab ya, tentu saja. Kuceritakan padamu bagaimana aku memendamnya selama lima tahun ini.

Aku tak pernah menyangka kau akan begitu sopan padaku; status-darah kita berbeda, dan seperti yang sudah kukatakan di surat yang pertama, kau darah-murni, dan biasanya orang-orang berdarah-murni menganggap rendah orang-orang berdarah-campuran dan orang-orang kelahiran-muggle.

Dan kau bilang kau mengingatku, saat kau keluar dari toilet, dipapah Snape, mengerlingku yang berlinangan air mata, lalu melihatku yang dengan terpaksa keluar dari bangsal rumah sakit sesaat sebelum kau meminum ramuan dari Madam Pomfrey, lalu ketika kau melihatku di pintu kantor Slughorn – kau bilang kau mengawasiku, bukan melihatku. Kau tidak tahu betapa itu sangat berarti bagiku.

Kemudian aku bertanya padamu tentang bagaimana kau mencariku – bertanya pada Michael Corner, menanyainya tentang anak Ravenclaw yang mempunyai inisial L.R. Dan kau pun menemukanku, Lucy Rothbelle. Lalu aku bertanya apakah Pansy tidak akan curiga kalau kau menemuiku, dan kau bilang dengan tak sabar bahwa Pansy ada pelajaran tambahan dengan Profesor Sprout.

Kau tak pernah benar-benar menyukai Pansy, kan? Kau hanya menyukai bagaimana dia memanjakanmu seperti ibumu. Kau menyukai belaiannya pada rambutmu seperti belaian ibumu. Kau tidak mencintai Pansy. Aku tahu dari ekspresimu dan sinar matamu ketika kau membicarakannya.

Dan tentu saja aku tak akan melupakan ceritamu tentang tugas yang diberikan Kau-Tahu-Siapa kepadamu – tentu dengan janjiku untuk tidak memberitahu hal ini pada siapapun. Aku tak pernah habis pikir kenapa dia sampai memberimu tugas itu – apa dia ingin kau memutuskan kepada siapa kau akan setia? Aku sungguh-sungguh kasihan pada ayah dan ibumu. Aku juga tak tega mendengar bagaimana kau digunakan oleh Kau-Tahu-Siapa tahun ini.

Ini menjelaskan bagaimana sepanjang tahun ini kau pucat, cemas – tebakanku benar, kan? Rencanamu berantakan; tidak heran, karena kau memakai Crabbe dan Goyle. Kau menyasar orang-orang tak bersalah. Kalau kau mau tahu, aku mencemaskanmu hampir sepanjang tahun ini; hampir, karena aku harus belajar untuk OWL-ku sebentar lagi.

Suratku kali ini tak akan sepanjang sebelumnya, karena aku sadar aku tak punya waktu lagi. Baru lima belas menit yang lalu kau mengatakan padaku, dengan gembira, bahwa Lemari Pelenyap yang bisa membantumu melakukan tugasmu, yang selama ini kau memperbaikinya di Kamar Kebutuhan, sekarang sudah betul dan bisa digunakan. Kau juga bilang malam ini mungkin kau akan melaksanakan tugas yang diberikan Pangeran Kegelapan, yang berarti, Pelahap Maut akan datang ke Hogwarts dan mungkin akan agak sedikit membuat kekacauan.

Mungkin setelah ini kau akan pergi.

Aku tak tahu apa yang mau kukatakan lagi. Entahlah. Kau mungkin agak susah membaca perkamen ini; tulisanku acak-acakan karena aku terburu-buru menulisnya dan banyak tinta yang menetes dan butir-butir air mata berjatuhan di perkamen ini, membuat tinta-tinta itu luntur.

Seperti janjiku padamu, aku tidak akan menceritakan apapun yang kau lakukan selama setahun ini kepada siapapun, dan aku juga tidak akan membocorkan rencanamu kepada anggota Laskar Dumbledore yang lain – aku punya firasat Harry mencurigaimu – meskipun ini berarti aku mengkhianati mereka, mengkhianati Dumbledore, mengkhianati Hogwarts.

Aku tak pernah benar-benar berhenti berharap kau akan mencariku, Draco. Sungguh.

Satu lagi, aku akan selalu mendukungmu apapun yang akan kau lakukan, meskipun yang kau lakukan itu adalah… membunuh Profesor Dumbledore. Sebab… kalau kau tidak membunuhnya… Kau-Tahu-Siapa akan membunuhmu, dan… kalau itu terjadi…

Aku tidak yakin akan bisa dengan tenang menerimanya.


Salam,
Lucy.



P.S.: kalau kau benar-benar akan pergi, bawalah surat ini bersamamu. Setidaknya kau punya sesuatu yang bisa mengingatkanmu dengan… teman sekolahmu ini. Dan… kirim burung hantu padaku, oke?
<<



(kalau yang ini benar-benar terinspirasi dari novelnya saja, karena dalam film ceritanya berbeda, Malfoy keluar dari rumah sakit pada malam hari dan langsung mengecek Kamar Kebutuhan, padahal kan dia keluar dari rumah sakit dulu, si Snape memberi detensi kepada Harry dan kemudian Harry dan Ginny jadian, terus Harry dapat perkamen dari Dumbledore dan waktu Harry mau ketemu Dumbledore dia berpapasan dengan Profesor Trelawney yang bilang kalau di dalam Kamar Kebutuhan ada seseorang yang berteriak, dan itu Malfoy) *oke, mungkin kamu agak sedikit bingung membacanya*

Disclaimer: Draco Malfoy, tokoh ciptaan J.K. Rowling, tidak pernah mengenal Lucy Rothbelle dan dia tidak pernah mencari anak Ravenclaw berinisial L.R. dan bertanya pada Michael Corner. Ini hanyalah surat rekaan saya saja. :)) Kepada seluruh pecinta Harry Potter, maaf karena saya membuat Lucy terkesan seperti pengkhianat Hogwarts, padahal dia (ceritanya) anggota Laskar Dumbledore. Ini karena rasa cintanya yang dalam pada Draco.

R.A.
Continue reading Surat Dalam Secarik Perkamen (II)
, , , ,

Surat Dalam Secarik Perkamen

Salam, Pembaca!

Saya lagi nyobain bikin fanfiction Harry Potter, nih. Kalau biasanya fanfiction berupa cerita dan dialog antar tokoh, kali ini saya bikin dalam bentuk surat. Ceritanya ada seorang cewek yang nggak terlalu dikenal (tentu saja, ini cewek cuma khayalan saya saja) yang mencintai (guess who!) seorang anak Slytherin. Oke, pasti kamu semua bisa menebaknya.
Atau belum? Ya sudah, baca saja dulu. XD
Happy reading! :))

>>
(teks dalam secarik perkamen yang ditemukan Draco Malfoy terselip di dalam lipatan jubahnya di lemari pakaian siswa)


-Dari L.R. kepada D.M-

Aku menyadari, dengan sepenuh hatiku, bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untukku untuk menceritakan semuanya kepadamu. Namun aku melihat fakta bahwa keadaan sekarang sudah sangatlah gawat, dengan rezim Kau-Tahu-Siapa yang sebentar lagi akan menguasai dunia sihir, dan – maafkan aku karena menyebut-nyebut ini – Pelahap Maut dan Ilmu Hitam yang berlangsung seru di luar Hogwarts, sehingga ada kemungkinan sebentar lagi Hogwarts akan dimasuki Pelahap Maut, dan mungkin, ditutup. Kupikir, kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi?

Pertama, kau tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu. Setidaknya aku tahu kau. Aku anak Ravenclaw. 'Kepintaran manusia yang tak terhingga adalah harta yang paling berharga'. Topi Seleksi menempatkanku di Ravenclaw, yang aku tidak tahu kenapa. Mereka bilang anak-anak Ravenclaw adalah yang terpintar; aku tidak sependapat, lihat saja Hermione Granger, dia yang paling pintar di sekolahan, dan dia Gryffindor.

Menyebut-nyebut Hermione Granger mengingatkanku pada hal lain: status-darah. Kau berdarah-murni, dan bangsawan, lagi, maka aku tidak heran kalau kau dan keluargamu sangat sensitif terhadap penyihir-penyihir kelahiran-Muggle.

Aku berdarah-campuran. Bagimu mungkin itu sama buruknya dengan kelahiran-Muggle dan darah-pengkhianat. Aku tidak peduli.

Yang aku pedulikan adalah bagaimana aku memperhatikanmu akhir-akhir ini. Bagaimana kondisimu akhir-akhir ini. Kau tahu, waktu pertandingan Quidditch Gryffindor versus Slytherin dan kudengar kau tidak main karena sakit, aku mencarimu ke rumah sakit, untuk sekedar mengintipmu dan memastikan kau baik-baik saja – bagaimanapun kau dan Pansy Parkinson punya hubungan khusus, kan, dan aku tidak yakin Pansy akan menyambutku dengan senang kalau dia tahu aku menjengukmu di rumah sakit – tetapi kau tidak ada. Kupikir sakitmu pastilah tidak begitu parah hingga harus masuk rumah sakit, dan hatiku pun kembali tenang.

Kemudian undangan pesta Profesor Slughorn pun datang; kau tidak tahu bagaimana aku mempertimbangkan, dengan sungguh-sungguh, untuk mengajakmu, tapi aku tak pernah punya cukup keberanian untuk memintamu datang ke pesta bersamaku. Aku menolak tiga orang yang mengajakku kesana, dan pada saat-saat terakhir, ketika aku sudah menyerah untuk mengajakmu, seorang anak laki-laki Hufflepuff kelas tujuh mengajakku. Aku menerimanya.

Aku memang datang ke pesta bersamanya, tapi pikiranku sama sekali tidak tertuju padanya. Aku melepaskan diri darinya dan berkilah aku mau ke toilet, padahal aku menunggu di pintu masuk kantor Profesor Slughorn. Luna dan Harry – ya, Harry Potter, aku mengenalnya dan dia mengenalku, karena aku anggota Laskar Dumbledore – berpapasan denganku. Luna bertanya padaku apakah aku menunggu seseorang, dan kujawab ya. Mereka masuk ke dalam kantor Slughorn setelah tersenyum padaku. Aku membalas senyuman mereka. Kuarahkan pandanganku ke sisi-sisi jendela dan AKU MELIHATMU, duduk disana, memandang kosong padaku – atau kupikir begitu, karena kau memandang pintu masuk kantor Slughorn, mungkin kau tidak menyadariku. Aku baru akan membuka mulut waktu anak Hufflepuff yang mengajakku memanggilku. Akhirnya aku terpaksa masuk ke dalam kantor dan mengerling sekilas kepadamu, tapi, kau tetap tidak bergeming.

Aku melihat vampir, kalau mataku tidak salah, dan waktu aku melewatinya, kudengar Slughorn mengenalkan vampir itu pada Harry, namanya Sanguini. Aku mempercepat jalanku karena Sanguini sudah memandangiku ingin tahu. Aku tidak mau melewatkan pesta dengan leher berdarah-darah.

Betapa kagetnya aku melihatmu, diseret oleh Filch masuk ke kantor. Kuduga pasti kau ketahuan bersembunyi di koridor, dan dugaanku benar. Saat itu aku ingin sekali membelamu dan mengatakan kalau aku mengajakmu ke pesta – tapi bagaimana dengan cowok Hufflepuff yang mengajakku? Aku tidak sekejam itu. Maka aku pun hanya memandangmu cemas ketika Profesor Snape mengatakan mau bicara denganmu. Aku mengikuti setelah Harry keluar kantor.
Sebisa mungkin aku tak membuat suara saat mengikuti Harry; aku sendiri tak tahu apa yang dipikirkan Harry, tapi kurasa dia tak ingin aku tahu apa yang dilakukannya.
Dan aku mendengarmu dan Profesor Snape berteriak-teriak di koridor. Kau tidak tahu bagaimana perasaanmu ketika aku mendengarnya; aku menangis, yeah, menangis tanpa suara.

Dan aku sendiri tak tahu kenapa aku menangis! Mungkin karena kau dimarahi oleh guru yang selama ini kau kagumi. Mungkin karena aku melihatmu agak pucat saat kau mengatakan ‘akulah yang dipilihnya!’. Aku tak mengerti. Dan mungkin karena aku melihatmu berkeras tidak mengakui tuduhan Profesor Snape bahwa kaulah yang memberikan kalung pada Katie Bell, itu membuatku berpikir, mungkin kaulah yang memberikan kalung itu. Kau dan Profesor Snape bicara tentang rencana yang harus kau lakukan, tetapi rencanamu gagal. Apa itu berkaitan dengan Kau-Tahu-Siapa dan Profesor Dumbledore? Aku tak mau memikirkannya.

Lalu aku kembali, sambil tetap menangis, ke koridor kantor Slughorn, tapi aku tidak masuk, aku duduk di sisi jendela tempatmu duduk tadi. Dan tanpa sadar Harry mendatangiku dan bertanya kenapa aku menangis. Aku hanya bisa tergagap dan memikirkan alasan yang tepat – tidak berkaitan denganmu, karena kurasa Harry tidak akan senang kalau mengetahui temannya menangisi musuh besarnya. Kemudian Harry bertanya apakah cowok Hufflepuff yang mengajakku menyakitiku. Aku lega karena ada alasan yang cukup logis, dan aku terpaksa mengiyakannya. Harry berkata bahwa aku pantas mendapatkan cowok yang lebih baik.

Ironis, karena aku sebenarnya sudah mendapatkan cowok yang baik.

Kecelakaan yang terjadi pada Ronald Weasley membuatku berpikir apakah mead yang diracun itu ulahmu lagi. Tapi aku melihatmu, pucat, di meja Slytherin, dan kupikir, ini salah satu rencanamu yang, maafkan aku jika menggunakan kata ini, gagal, lagi. Aku tidak bisa berhenti berpikir sebenarnya apa yang kau rencanakan!

Ketika Katie Bell kembali dari St. Mungo, kau memandanginya di Aula Besar dan aku memandangimu yang terlihat kaget – cemas – takut? Dan kau berlari keluar Aula Besar. Lagi-lagi aku mengikutimu, setelah Harry mengikutimu.

Lalu aku mendengar duel di toilet cowok – duel antara kau dan Harry yang berlangsung sengit. Dan aku bisa mendengar Harry meneriakkan mantra – apa ya mantranya, Sectumsempra? – dan Myrtle menjerit-jeritkan bahwa ada pembunuhan di toilet cowok. Hatiku mencelos, kalau kau mau tahu, dan aku melihat Profesor Snape berlari dengan cemas ke toilet, tidak melihatku, dan masuk. Sesaat kemudian aku melihat Snape memapahmu meninggalkan toilet – kau tampak pucat, penuh-luka, dan aku merasa hatiku berdebar tak karuan. Aku mengikuti Snape ke rumah sakit, dan kulihat Madam Pomfrey membaringkanmu di tempat tidur, dengan Snape bicara pada matron rumah sakit itu. Snape keluar dari rumah sakit, melihatku sejenak, dan berkata bahwa aku harus kembali ke asramaku. Tapi aku masuk ke dalam, yang langsung diusir Madam Pomfrey keluar. Kurasa dia tidak melihat mataku berkaca-kaca. Kupikir kau mungkin melihatku sekilas – aku tidak tahu apakah kondisimu cukup sehat untuk mengingatku.

Dan kemudian disinilah aku, mengawasimu, memandang matamu yang tertutup, mendengarkan napasmu yang teratur, beberapa malam setelahnya, menjengukmu diam-diam di rumah sakit. Aku tak tahu apa yang kupikirkan; berkeliaran di koridor pada tengah malam begini, menyelinap ke rumah sakit, menjengukmu, lagi.

Madam Pomfrey sedang tidur di kantornya, dan sebisa mungkin aku tidak membuat suara-suara ribut. Goresan pena-bulu pada perkamen ini mungkin membuatmu terbangun, tapi kulihat kau sudah meminum ramuan dari Madam Pomfrey yang bisa membuatmu tidur dengan nyenyak.

Saatnya kuakhiri surat ini – sudah pukul tiga pagi dan aku harus kembali ke asrama. Aku tidak akan meninggalkan surat ini di sisimu, di tempat tidurmu, di meja nakasmu, pokoknya tidak di rumah sakit ini. Aku akan menyelipkannya di jubah Slytherinmu di lemari pakaian siswa. Aku hanya akan mengganti bunga di vas – yang lama sudah sangat layu.

Kuharap kau lekas sembuh.

Salam,
L.R.
<<


(terinspirasi dari Draco Malfoy yang diperankan Tom Felton dan dari novel serta film Harry Potter and The Half-Blood Prince. Saya menggabungkan situasi cerita dari novel dan film, sehingga jangan bingung kalau ceritanya campur-campur. =.=’ maaf.)

Disclaimer: ini cuma khayalan saya saja, Draco Malfoy tentu saja adalah tokoh ciptaan J.K. Rowling sendiri. Lucy Rothbelle adalah tokoh rekaan saya; dia tidak pernah muncul dalam buku maupun novel, tidak pernah menjadi anggota Laskar Dumbledore, tidak pernah diseleksi masuk Ravenclaw, dan tidak pernah kenal dengan Harry atau Luna atau Profesor Snape atau Madam Pomfrey atau Draco sendiri tentu saja. Dan saya, sebenarnya, berkhayal menjadi Lucy. :))

R.A.
Continue reading Surat Dalam Secarik Perkamen
,

Simfoni Cinta Sang Puteri Raja

Salam, Pembaca!
Saya tidak tahu apakah tulisan di bawah ini tergolong jenis prosa atau puisi.
Menurut saya ini terlalu pendek untuk prosa, tapi terlalu panjang untuk puisi.
Yah, bagaimanapun, Happy reading! :))


>>
Jutaan manusia bertanya
tentang kisah kasih seorang puteri raja
yang berubah, seiring waktu
Mengundang tanya penasaran

Memberi makna tak terbaca
bagi setiap orang yang melihatnya

Ada makna tersirat dalam kasih
yang munafik itu,
yakni
hasrat membenci dan amarah yang
membara

Namun apa daya,
kisah kasih dusta itu menjadi nyata

Sang puteri dicuri hatinya,
oleh cinta yang awalnya,
Hanya candaan semata.

Pangeran juga tak mengira,
kepalsuan cintanya
Akan menjadi cinta suci
antara mereka

Mengikat dua hati yang biasa
Yang awalnya cuma
kemunafikan belaka

Salah mereka mempermainkan
hati,
Perasaan masing-masing tak bisa
dipungkiri

Dan pada saat itu:
burung hantu tersenyum puas
sang elang mengangguk gembira
kupu-kupu menari riang
kura-kura bijaksana memberitahu anaknya,
’hati-hati dengan hati’
si gagak berkata,
’puteri mendapatkan pangeran yang lebih baik’
sang elang kembali mengangguk
dan terbang mengelilingi cakrawala

Tetapi merpati menyampaikan berita
kepada pangeran yang satunya,
’pernikahan itu telah terjadi’

Pangeran pun gusar
Kepalsuan cinta puteri yang dahulu miliknya
menusuk tepat ke hatinya,
yang dibakar api cemburu

Keinginan mendapatkan kembali sang puteri
Muncul kembali dalam benaknya

Sadarlah ia
Selama ini ia mengejarnya:
mimpi yang sia-sia

Ikatan cinta yang putus begitu saja
Sebab alasan yang tak masuk
logika

* * *

Sampai disini, sang penulis berita
kehabisan kata
Menyadari betapa sakitnya
perasaan halus sang puteri raja
Ketika pangeran meninggalkannya.

Haru, larut dalam suasana
Senyuman sang penulis berita
menyimpan duka dan lara

Tangisannya mengisak dalam
Sebab keris itu mengiris hati lagi.
Membuka luka lama yang tertoreh dalam.
Dahulu kala,
waktu yang sudah lama
Masa lalu yang terus terkenang
Meskipun tak
diinginkan
Tidak karena memori itu
berharga,
Tetapi besarnya harga yang harus dibayar
karena memori itu

* * *

Sang penulis berita melanjutkan
cerita yang tertunda

Pangeran lama terus mencoba
Mengambil sesuatu yang dahulu miliknya

Tetapi puteri tak mau.
Cukuplah hatinya terluka di
masa lalu

Tak kan ada kesalahan kedua
Yang sama dengan kesalahan pertama

Sebab puteri telah membencinya
tak menginginkannya hadir.
lagi,
dalam kehidupannya

Pangeran baru pun tertawa
Miliknyalah puteri itu sekarang.

Sang puteri tersenyum bahagia
Dari jauh dalam hatinya
Sesuatu yang selama ini
tak pernah dilakukannya.

* * *
Continue reading Simfoni Cinta Sang Puteri Raja
,

Pelangi Abu-Abu

Meira memandang tanpa melihat selembar foto yang ada di tangan kanannya. Ketiga wajah kecil di dalam foto itu balas memandangnya. Wajah ceria anak-anak yang lugu dan tanpa beban. Sungguh berbeda kenyataannya dengan keadaan Meira saat ini.

Sesaat gadis itu mengenang kembali masa lalunya dengan kedua sahabatnya.

Dan entah kenapa, mengingat semua ini justru membuat gadis berambut ikal panjang itu merasa sedih.

Sebab kini semuanya sudah bertolak belakang dengan dua bulan lalu. Sekarang sudah tak ada yang peduli lagi. Tak ada yang memberi perhatian lagi. Bahkan kedua sahabatnya sudah menjauh darinya. Rasa kehilangan yang teramat sangat itu telah mengalahkan kegembiraannya, dua bulan lalu.

Meira rela memberikan apa saja, untuk mendapatkan sahabatnya kembali. Termasuk untuk memutarbalikkan waktu. Ia ingin kembali ke dua bulan lalu. Kembali ke masa-masa yang penuh keceriaan antar-sahabat, bukan ke masa-masa yang penuh kesuraman antar-sahabat seperti sekarang ini.

* * *

Pagi tadi ia bertandang ke rumah salah satu sahabatnya, Akbar.

"Hai," gumam Meira di depan pintu rumah anak laki-laki itu.

"Mmm," adalah jawaban ogah-ogahan Akbar. "Masuklah."

Meira melangkahkan kakinya melewati kusen pintu rumah. Entah sudah berapa lama Meira tidak menginjakkan kakinya di rumah ini, sampai-sampai ia lupa jika ada jam kukuk besar terpasang di ruang keluarga Akbar.

"Akan kubuatkan teh," kata Akbar, seolah enggan berada satu ruangan dengan Meira.

"Kubantu," Meira beranjak dari duduknya.

"Tidak perlu, tak apa-apa," tolak Akbar.

Meira mendengar nada penolakan yang cukup keras dari suara itu meskipun Akbar mengatakannya dengan halus. Akhirnya ia mengalah, kembali jatuh ke sofa empuk berwarna putih itu.

Sesuatu menarik perhatian Meira dari sebuah ruangan yang terbuka pintunya. Meira kenal ruangan itu; ruang galeri milik Ayah Akbar yang senang melukis. Dari pintunya yang terbuka Meira dapat melihat dengan jelas sebuah lukisan yang tampaknya baru. Entah mengapa daya tarik lukisan itu bagaikan magnet yang mengundang Meira untuk melihatnya lebih jauh.

Bangkit dari duduknya, Meira berjalan menuju ruang galeri itu. Hanya tinggal berjalan melewati lemari kaca saja, kok; tidak terlalu susah. Yang membuatnya susah adalah perasaan Meira yang mengatakan, jangan masuk kesana. Bahkan ia sendiri bingung mengapa hati kecilnya menyerukan peringatan itu. Ini kan rumah sahabatnya sendiri; sudah puluhan kali Meira mengunjunginya dan masuk ke dalam ruang galeri ini, jadi mestinya tidak ada masalah jika Meira ingin melihat-lihat galeri itu lagi.

Rasa penasaran Meira mengalahkan peringatan hatinya. Pintu yang terbuka itu didorongnya sedikit. Menimbulkan bunyi yang tidak pelan, memang. Tetapi Meira tahu betul ruang galeri itu terletak jauh dari dapur tempat Akbar sedang membuat teh.

Dan itu dia, lukisan aneh itu, terpasang di kanvas, nampak sekali masih baru, sebab terlihat catnya masih ada yang basah.

Yang menarik perhatian Meira adalah, sesosok pemuda, dengan tetes-tetes gerimis hujan membasahi tubuhnya, memandang sendu ke arah seorang gadis yang memakai payung berwarna pink tua, yang melangkah menjauhi sang pemuda, menembus hujan yang turun rintik-rintik. Dalam lukisan itu tampaknya hujan baru saja berhenti turun, dan matahari baru muncul malu-malu dari balik awan.

Dan ada pelangi.

Pelangi itu, entah disengaja entah tidak, dilukis dengan menggunakan warna abu-abu yang berbeda kekentalannya, sehingga membentuk gradasi warna abu-abu gelap ke terang. Dan hanya pelangi itulah yang dilukis dengan warna abu-abu.

Meira memandang dalam ke lukisan si pemuda, yang pelukisnya patut diacungi jempol, sebab kesedihan yang terpancar dari wajah pemuda yang sepertinya tak ingin gadis berpayung pink itu pergi, sangat membuat hati Meira miris.

Ia mengalihkan pandangannya ke sosok sang gadis. Rambutnya coklat, bergelombang, dan panjang. Meira mengira gadis itu seperti...

"Kukira kau masih diluar."

Meira terlonjak kaget. "Ehm..."

Akbar tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, kok."

"Maafkan aku," ujar Meira pelan, beranjak keluar dari galeri.

"Tak apa-apa, duduklah," Akbar meletakkan nampan berisi dua cangkir tehnya di meja kayu didekatnya. Di sebelahnya ada sepasang kursi kayu yang sudah diberi bantal agar tak terlalu keras saat diduduki. Meira memilih kursi yang di sebelah kanan.

"Lukisan yang indah," gumam Meira, mencoba berbasa-basi.

Akbar tampak kebingungan.

Meira menunjuk ke arah lukisan yang baru saja diamatinya tadi.

"Oh," tiba-tiba saja nada suara Akbar berubah. Dengan gemetar ia mengangkat cangkirnya dan mencoba menyeruput tehnya, yang gagal karena rupanya wajahnya juga bergetar sehingga tehnya menetes-netes ke bagian depan bajunya.

Meira bangkit dari duduknya dan mengeluarkan sapu tangannya, beranjak mendekati Akbar dan berlutut didepannya, mencoba membersihkan tetesan teh yang mulai membentuk pola seperti pulau di bagian depan kemejanya.

"Huuh, hati-hati dong, seperti anak kecil saja..." sahut Meira pura-pura kesal. Lalu ia menengadah. Dilihatnya Akbar sedang mengamatinya membersihkan kemeja. Pandangan mereka bertemu.

"Oh..." ujar mereka bersamaan. Meira langsung berdiri.

"Maaf..."

"Tak apa..."

"Kenapa kita seperti tak kenal begini ya?" ujar Meira mencoba bercanda.

Akbar tak tertawa. Meira sedikit kecewa, meskipun ia sudah mengira hal ini bahkan sebelum kata pertamanya keluar.

"Kamu tahu judul lukisan itu?" tanya Akbar.

Meira menggeleng.

"'Pelangi Abu-Abu'."

"Kamu yang melukisnya?" Meira balik bertanya.

Akbar mengangguk. "Lukisannya sendiri bercerita tentang seorang pemuda yang tak ingin gadis yang selama ini berada didekatnya pergi. Semenjak gadis itu pergi, hidup pemuda itu suram. Bahkan pelangi yang dilihatnya pun menjadi abu-abu."

Meira merasa Akbar meliriknya saat menjelaskan ini semua. "Biar kutebak."

Akbar memandangnya.

"Itu ceritamu, kan?"

Kali ini Akbar memandang lantai. "Kau selalu tepat dalam menebak segala hal."

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkan kalian berdua dengan menerima Ryan sebagai kekasihku. Aku cuma..." Meira tertunduk, nyaris sesenggukan, namun ditahannya. TIDAK. Kali ini aku harus kuat. Kalau ingin persahabatan ini tetap bertahan, aku harus tegar.

Akbar menunggu.

"Aku hanya... senang, karena ternyata orang yang sudah kusukai selama berbulan-bulan juga menyayangiku dan... perasaan kami sama, jadi... yah... menurutku... ini sebuah kebetulan yang menyenangkan..." Meira mengakhiri dengan sedikit malu.

"Aku tahu," kini tampaknya Akbar merasa bersalah. "Seharusnya aku tidak begini dan membuatmu merasa bersalah. Semestinya aku mendukungmu untuk menjalin hubungan dengan Ryan. Bukan malah sedih melihatmu berdua dengan anak itu."

"Maafkan aku," lagi-lagi mereka berkata bersamaan. Lalu keduanya tersenyum.

"Temui Radel. Sekarang. Dia bermain buruk dalam pertandingan basketnya akhir-akhir ini. Dia pasti sangat kehilanganmu," saran Akbar.

Meira lega. Sekarang Akbar sudah menerima kenyataan bahwa Meira masih ada untuknya sebagai sahabat.

Setelah meneguk tehnya, Meira berpamitan pada Akbar dan mengucapkan terima kasih sebanyak mungkin pada anak laki-laki itu.

"Oh, omong-omong, aku tidak bohong soal lukisanmu," kata Meira. "Kamu berbakat melukis. Lukisan itu indah sekali."

"Ya, tetapi maknanya tidak indah," sahut Akbar dengan senyum sedih.

"Hei, sudahlah! Kan aku ada disini," senyum Meira.

"Aku akan selesaikan lukisan itu," gumam Akbar.

"Eh? Masih belum selesai?"

"Aku akan... eh... mengubah ini dan itu," kini senyum Akbar terlihat manis.

"Kamu manis," ujar Meira tulus. Akbar tersipu malu.

"Nah, pergilah menemui Radel, oke?"



Namun kenyataan yang dihadapi Meira ketika bertandang ke rumah Radel berbeda dengan saat menemui Akbar.

Memang raut wajah Radel lebih keras dibandingkan air muka Akbar tadi sewaktu melihat Meira muncul di pintu rumahnya.

"Aku sedang sibuk," gumam Radel, tidak memandang Meira. "Mmm. Berkunjunglah nanti."

"Aku ingin bicara," kata Meira berani. "Sekarang."

Radel tampak tak ingin. "Oke. Masuklah."

Terakhir kali Meira berkunjung ke rumah Radel, foto mereka bertiga-lah yang pertama kali bisa dilihat secara langsung ketika ia masuk dari pintu depan. Sangat strategis tempatnya, karena berada di dinding ruang tamu. Sekarang entah sejak kapan, foto itu berganti menjadi sebuah hasil desain grafis yang indah yang dicetak di kertas foto dan diletakkan dalam bingkai hitam dengan pinggiran garis emas.

Grafis itu menggambarkan sebuah siluet sosok belakang seorang pemuda yang duduk di bangku taman, menghadap matahari yang mulai tenggelam. Siluet sosok yang kesepian. Beberapa langkah ke kanan dari bangku itu berdirilah seorang gadis dengan rambut bergelombang dan rok yang melambai tertiup angin, menghadap ke arah si pemuda, seolah bingung memutuskan hendak meninggalkan pemuda itu atau tidak.

Sedangkan di sisi kiri grafis itu terdapat sebuah pohon rindang dan dibawahnya, bersandar sosok pemuda yang lain, memandang ke atas seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan ikatan ketiga manusia di grafis itu. Terserahlah, mungkin itu isi hati pemuda yang bersandar itu.

Meskipun itu hanyalah sebuah siluet, namun efek yang dihasilkannya nampak seperti lukisan karya Akbar tadi.

"Terpesona?" ujar Radel mengagetkan, nadanya sinis.

Meira terdiam. "Kenapa? Tidak boleh?"

"Boleh saja."

Radel meletakkan dua gelas es jeruk di meja tamu. Ia tidak menyilakan Meira duduk ataupun meminum minuman buatannya.

Meira memberanikan diri bertanya pada Radel. "Kamu marah ya?"

"Oh, kalau iya kenapa, dan kalau tidak kenapa?"

"Kalau tidak, aku…"

Radel tak pernah tahu apa yang akan dilakukan Meira jika ia tak marah padanya, sebab ketika itu, sayangnya, ponsel Meira berbunyi keras.
Melihat raut wajah Meira yang langsung berubah ketika melihat nama di layar ponsel itu, raut muka Radel juga langsung berubah lebih dingin.

"Halo? Eng… nanti saja, ya… aku sedang sibuk… oke? Daah…" Meira menutup pembicaraan. "Nah, jadi…"

"Ryan, kan?" ujar Radel dingin.

"Mmm. Iya," Meira menyesali mengapa Ryan meneleponnya di saat-saat seperti ini.

"Kalau kamu datang kesini hanya untuk menunjukkan itu padaku, nah, aku tak punya waktu, jadi mungkin sebaiknya…"

Meira sudah tahu apa yang akan dikatakan Radel, sehingga ia buru-buru menyela, sebelum hatinya sakit lagi mendengar keseluruhan kalimat itu. "Tidak! Aku kesini bukan untuk itu! Aku ingin kita kembali! Aku ingin kamu kembali! Aku ingin kita bersama lagi! Aku minta maaf!"

Radel terlihat bersalah, namun ia kembali mencari-cari kesalahan lain Meira. "Kenapa baru sekarang?"

"Aku… aku bingung! Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan! Kalian berdua bertingkah seperti anak kecil dan aku bingung menghadapi kalian!" Meira mulai meledak dan mencurahkan semua kekesalan, kesedihan, kemarahan, kekecewaannya pada Radel.

Muka Radel mulai memerah karena marah. "Aku tidak akan membentakmu karena sampai sekarang aku masih menganggapmu sahabatku. Sekarang… kalau kamu tidak keberatan…"

Sejenak, Radel terlihat bingung. Ada pertempuran hebat dalam benaknya. Akhirnya, ia mengambil keputusan dengan membuka pintu rumahnya tanpa berkata apa-apa.

Meira tak perlu mendengar kalimat-kalimat Radel yang akan dilontarkannya. Gadis itu langsung bangkit berdiri dan berlari dengan dramatis keluar rumah Radel. Hatinya sakit. Setibanya di rumah ia menelepon Akbar sambil menangis sesenggukan dan sahabatnya itu berkata ia akan segera meluncur ke rumah Meira.

* * *

Akbar terenyuh melihat Meira membuka pintu rumah dengan lemas sembari masih menggenggam foto yang merekam kebahagiaan masa kecil mereka bertiga. Meira menceritakan kejadian di rumah Radel dan menumpahkan seluruh kekecewaannya.

"Mei… kamu tahu? Aku menemukan kertas ini di laci meja Radel di sekolah," Akbar mengulurkan selembar kertas yang tampaknya berisi surat.
Meira meraih kertas itu dan membacanya. Rupanya bukan surat. Melainkan puisi. Judulnya Pelangi Abu-Abu…

"Radel membuatnya seminggu yang lalu. Mungkin kau mengira kami telah mencapai kesepakatan untuk membuat serangkaian karya yang berjudul sama, tetapi tidak. Aku mulai melukis lukisan itu kira-kira sepuluh hari yang lalu, dan idenya sudah muncul sejak sebulan yang lalu. Tak terpikirkan olehku untuk memberitahu Radel; biar aku saja yang menyimpan kesepian ini, namun betapa terkejutnya aku saat menemukan puisi ini di meja Radel. Kalau kau baca dengan baik, artinya sama dengan makna lukisanku," terang Akbar.

Air mata Meira mulai menitik lagi saat membaca puisi Radel.

"Mungkin kau bosan dengan perkataanku ini. Tapi, yah… kami memang merasa kehilangan semenjak kau berhubungan dengan Ryan… seolah-olah kau… melupakan kami…" ujar Akbar, terlihat malu.

Sekilas pikiran Meira melayang ke foto siluet ketiga sahabat yang terpajang di ruang tamu Radel.

Meira tersentak. Dirinyalah gadis dengan rambut bergelombang melambai dalam siluet Radel. Dirinyalah gadis berambut coklat memakai payung pink dalam lukisan Akbar.

Lalu semuanya menjadi jelas. Pemuda yang bersandar di pohon, menatap langit dalam siluet, adalah Akbar. Sementara pemuda yang duduk kesepian di bangku taman, adalah Radel. Pemuda yang memandang sendu gadis berpayung pink dalam lukisan Akbar, adalah sang pelukis sendiri.

"Bodohnya aku," ujar Meira, kesal pada dirinya sendiri. "Selama ini akulah yang mengabaikan kalian. Akulah yang terlalu senang karena hubunganku dengan Ryan. Aku tidak sadar akan perasaan kalian berdua. Selama ini memang hanya aku yang salah."

Suara guntur tiba-tiba menggelegar, memecah langit. Akbar dan Meira tersentak sedikit. Hujan turun dengan tiba-tiba. Suasana ini dinikmati keduanya untuk merenungi masalah mereka.

Setelah beberapa saat,
"Tidak," kata Akbar bijaksana. "Kami berdua juga egois karena kami tak ingin kamu direbut orang lain. Kami berdua tak ingin orang lain memilikimu. Dan, aku juga salah pada Radel karena aku hanya bisa pasrah tanpa usaha."

Meira teringat lagi pada siluet pemuda yang bersandar di pohon.

"Apakah kalian…"

Suara Meira teredam oleh bunyi gedoran pintu rumah Meira yang cukup keras.

"Apa kau punya janji dengan orang lain…?" tanya Akbar ragu.

"Tidak, rasanya tidak…" ucap Meira mencoba mengingat.

Kini suara gedoran pintu itu terdengar bersahut-sahutan dengan suara keras memanggil-manggil Meira.
"MEEII!! MEIRAA!"

Akbar dan Meira berpandangan.

"Radel," gumam Akbar, mengutarakan isi pikiran mereka berdua.

Meira membuka pintu rumahnya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan; pintu rumahnya rusak didobrak Radel, misalnya.

Benar saja, Radel basah kuyup karena hujan yang turun semakin deras di luar.

"Radel?"

Radel terengah-engah. Jelas ia berlari cukup kencang dari rumahnya ke rumah Meira. "Maafkan aku," katanya, "telah mengusirmu dari rumahku."

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa - masuklah, di luar dingin sekali," ujar Meira cemas, mengigil saat ada angin bertiup pelan.

Akbar ternyata sudah lari ke dapur membuatkan teh panas untuk sahabatnya. Meira berlari ke kamar terdekat, mengambilkan selimut tebal untuk teman terbaiknya. Radel tertunduk menatap lantai.

"Padahal kan kau tak perlu lari-lari," gumam Meira iba melihat Radel menggigil. "Hujannya deras sekali."

"Maafkan aku," kata Radel pada lantai. "Hujan itu turun tiba-tiba saat aku sedang berjalan kesini."

"Kamu bodoh," sahut Meira, nyaris terisak. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Kamu tidak memikirkan perasaanku, ya!"

Akbar yang baru tiba dari dapur terkejut melihat Meira menangis. Radel menyadari kedatangan sahabatnya, dan buru-buru menjelaskan.
"Eh... karena itulah aku datang," kata Radel. "Demi perasaanmu. Perasaan kita semua."

"Teh," gumam Akbar, masih mengawasi Meira yang mengusap-usap matanya. "Biar hangat."

"Terima kasih," ujar Radel, hendak mengambil secangkir teh dengan tangannya yang gemetar, tetapi sudah keduluan Meira.

"Minumlah," gumam Meira tersenyum, menyodorkan secangkir teh untuk Radel. Mendadak hatinya diliputi perasaan lega. "Akan membuatmu lega."

"Ya, tapi akan menelan apa yang aku katakan ke tenggorokan," kata Radel, baru teringat akan alasan yang membawanya ke rumah Meira. "Aku minta maaf atas semuanya. Aku - kami memang egois karena hanya ingin memilikimu. Setelah kupikir-pikir... aku salah. Kami tak seharusnya mengekang sahabat kami untuk... menjalin hubungan dengan orang lain. Kami seperti anak kecil yang tak ingin mainan kami direbut tangan orang lain."

Meira menyodorkan tehnya. "Sudahlah. Aku juga salah. Aku yang terlalu senang karena Ryan. Tapi... jangan berpikir kalau aku melupakan kalian... kalian sahabat terbaik yang pernah aku miliki seumur hidupku."

Radel menerima tehnya dengan gembira dan segera menyeruputnya.

Akbar tersenyum. "Aku akan menyelesaikan lukisanku."

Meira menoleh. "Eh? Belum selesai?"

"Harus ada yang berubah, kan?"

"Apanya?" tanya Meira penasaran.

Akbar bangkit dari duduknya, lalu ia membuka jendela. Hujan sudah mereda, dan matahari berusaha muncul dari balik awan gelap. Seberkas sinar memancarkan warna-warna indah. Akbar tersenyum.

"Pelangi."

* * *

R.A.

n.b. ini cerpen orisinal yang saya buat untuk sebuah lomba cerpen tingkat nasional, yang saya bikin dari puisi 'Pelangi Abu-Abu'. Alur ceritanya berbeda dengan yang di prosa, dan di cerpen ini, Radel membuat puisi, bukan prosa. Menurut saya (dan beberapa teman saya juga yang sudah membaca print out cerpen ini) cerita ini kurang 'greget'. Tapi, paling tidak, masih bisa dibaca.
Continue reading Pelangi Abu-Abu

Kau, Dia, Mereka

Salam, Pembaca!
Puisi ini saya bikin untuk sahabat-sahabat saya waktu SMA. ^^
Happy reading! :))

>>
Kau, dia, mereka
Ketiganya manusia-manusia
Pengisi-pengisi bingkai-bingkai yang kosong-kosong
Yang selalu timbul-timbul dalam hatiku

Kau, dia, mereka
Ketiganya berbeda-beda
Pengalun-pengalun melodi-melodi yang indah-indah
Yang selalu terngiang-ngiang dalam fikirku

Kau, dia, mereka
Ketiganya sama-sama
Pembuat-pembuat canda-canda yang jenaka-jenaka
Yang selalu buat tergelak-gelak tawaku

Kau, dia, mereka
Ketiganya berharga-berharga
Pengusir-pengusir cerita-cerita yang sedih-sedih
Yang selalu buat tersipu-sipu lagi senyumku

Kau-dia-mereka
Begitu berharga
Tak kan rela
Kehilangan ketiganya
Continue reading Kau, Dia, Mereka
, ,

Kata Hati (III)

Kata Hati (III)


Salam, Pembaca!
Ini salah satu khayalan saya tentang 'bicara dengan pribadi yang lain'.
Happy reading! :))


>>
Sudah terlalu lama aku sendiri.

Dan kupinta suara hati untuk datang menemani, karena tak kunjung datang orang yang kunanti.

Suara hati: Ada apa?

Aku: Hmm... hanya bertanya-tanya apakah saat ini kau yang satu lagi sedang melakukan tugasnya.

Suara hati: Memangnya kenapa? Apa kau kecewa? Sakit hati? Berduka?

Aku: Kecewa sih, tidak... hanya saja... aku bertanya-tanya.

Suara hati: Tentang kenyataan yang harus kau hadapi?

Aku: Ya.

Suara hati: Tentang teman-temanmu?

Aku: Mmm. Entahlah. Mungkin iya. Mungkin tidak.

Suara hati: Berarti iya. Kalau bukan, pasti kau langsung bilang tidak. Bukan mungkin.

Aku: Haha. Permainan kata-kata yang sangat indah.

Suara hati: Benar. Jadi, apa masalahmu sekarang?

Aku: Aku... tak tahu. Seorang teman pernah berkata padaku bahwa kalau aku mesti berpisah dengan dengan teman-temanku, aku tak boleh menangis.

Suara hati: Betul. Itu bukan akhir dari segalanya. Sebab teman sejati tidak akan melupakan temannya. Ia pasti akan selalu sayang pada kita. Dan kita harus percaya itu.

Aku: Ya. Aku mencoba untuk percaya. Tapi, sulit. Sulit sekali.

Suara hati: Mengapa sulit? Kau belum mencoba.

Aku: Aku sudah percaya! Aku sudah yakin akan hal itu, sepenuh hatiku, bahwa aku masih punya teman yang tidak akan melupakan aku!

Suara hati: Itu betul!

Aku: Tapi, hanya aku yang yakin. Aku tak tahu kalau mereka nanti melupakan aku. Aku tak tahu apakah mereka masih menyayangiku. Aku tak tahu! Aku memang menganggap mereka berharga. Sepenuhnya. Dan aku menyayangi mereka! Tapi apa mereka juga menyayangi aku? Aku menganggap mereka sebagai bagian hidupku. Aku menganggap kenanganku dengan mereka itu penting. Tapi apa mereka juga merasakan hal yang sama denganku?

Suara hati: Itukah sebabnya kau kecewa?

Aku: Ya. Lebih baik merasa kecewa sekarang daripada nanti.

Suara hati: Dengar. Kau harus percaya mereka. Kalau kau tidak percaya bagaimana mereka bisa mempercayaimu?

Aku: Aku mencoba! Aku sudah yakin seyakin-yakinnya. Tapi aku juga tidak mengabaikan fakta yang terpampang untuk kesekian kalinya di hadapanku.

Suara hati: Aku mengerti. Memang sakit sekali rasanya kalau tidak dianggap, bahkan oleh orang-orang yang selama ini kita anggap teman.

Aku: Dan benar kata Jodie Santemillion. Jangan terlalu sering mengandalkan orang. Sebab, suatu saat mungkin sudah tak ada lagi orang yang bisa kita andalkan.

Suara hati: Kau tidak mengandalkan orang. Kau butuh tempat untuk bersandar.

Aku: Kursiku empuk begini. Enak untuk bersandar.

Suara hati: Memang. Dengar, kau sudah terlalu lama menyimpan semua perasaan sakit itu. Kalau dibiarkan, nanti hatimu berlubang.

Aku: Haha. Betul sekali. Tidak enak rasanya. Kau tahu, orang yang tertawa, terlihat tegar di luar, sebenarnya memendam masalah yang jauh lebih berat daripada orang-orang yang menangis-nangis di luar.

Suara hati: Iya, kau betul. Begini, kau seharusnya pergi sendirian ke sebuah tempat sepi, jauh dari peradaban. Disana, berteriaklah sesukamu, menangis. Sampai kau merasa lega.

Aku: Heh. Dimana ya, ada tempat seperti itu. Kalau ada, sudah sejak dulu aku menyambanginya setiap saat untuk berteriak.

Suara hati: Entahlah. Tapi, aku tahu, kau tipe orang yang malas menunjukkan kesedihanmu, bermuka cemberut setiap saat, menangis kepada semua orang, berkoar-koar tentang masalahmu, berkeluh kesah kepada semua orang.

Aku: Memang betul. Soalnya, tak kan ada yang peduli kalau aku menangis. Jangankan menangis, aku sakit pun tak akan ada yang percaya. Karena ya itu tadi, aku selalu tertawa dan heboh. Jadi sekalinya aku beda, pasti dianggap bercanda.

Suara hati: Hah. Dasar tukang bohong.

Aku: Haha. By the way, terima kasih sudah menemaniku.

Suara hati: Always. Aku akan selalu muncul kapanpun kau merasa butuh aku.

Aku: Baik sekali.

Suara hati: Bukankah itu yang kau harapkan? Seseorang yang muncul tepat saat kau sedang butuh perhatian. Seseorang yang bisa diandalkan.

Aku: Ya, kau benar. Sedih sekali ya, kalau hanya sendiri. Untung ada kau.

Suara hati: 'Sendiri' dalam hal apa? Maksudmu, kau juga ingin dicintai?

Aku: Dan mencintai. Hubungan timbal balik. Yang berkelanjutan. Tapi, pasti susah sekali mencari yang seperti itu, yang tulus. Karena cinta.

Suara hati: Mencintai itu memang sulit kalau kita belum menyayangi.

Aku: Kau bijak sekali.

Suara hati: Trims. Hei, dengar. Jangan biarkan perasaanmu tadi menjadi kekhawatiran tak beralasan, oke?

Aku: Hah? Tentu saja, kau pikir aku tak tahu bagaimana perasaanku sendiri?

Suara hati: Hanya sebuah nasihat...

Aku tersenyum pada matahari yang bersinar terik, meskipun aku mesti mengernyit memandangnya.

17 April 2010
Continue reading Kata Hati (III)
, ,

Kata Hati (II)

Salam, Pembaca!

Salah satu 'naskah' percakapan saya yang lain dengan suara hati. Lebih singkat dari yang pertama...
Happy reading! :))

>>
Aku menangis, dalam diam, dalam hening.

Berharap suara hati muncul lagi, aku memohon.

Aku: Aku kesepian.

Suara hati: Mengapa sepi?

Aku: Aku sepi karena sendiri.

Suara hati: Sendiri karena kehilangan hati?

Aku: Ya. Tapi, aku tak mengingkari janji. Karena itulah aku bingung.

Suara hati: Aku yang satu lagi membuatmu begini.

Aku: Ya.

Suara hati: Hei, tenanglah. Jangan biarkan aku yang satu lagi menguasai benakmu. Legakan pikiranmu.

Aku: Aku cuma ingin dihargai. Apa itu salah?

Suara hati: Tentu saja tidak! Namun caramu yang salah.

Aku: Lantas?

Suara hati: Sama seperti detektif. Ia tidak terburu-buru menuduh seseorang sebagai tersangka. Tapi ia mengkaji lebih dalam tentang kejadian sebenarnya. Ia bertindak dengan teratur, perlahan, namun tepat sasaran. Kau paham maksudku?

Aku: Mmm. Paham.

Suara hati: Dengar, aku sangat mengerti aku yang satu lagi, yang kekanak-kanakan. Ia memperparah keadaan dengan membuatmu selalu melibatkan perasaan.

Aku: Dan membuatku cengeng.

Suara hati: Benar, meskipun sebenarnya, jauh di dalam sini, kau punya kekuatan. Hanya saja aku yang satu lagi mendominasi.

Aku: Aku tak sekuat itu. Percayalah. Orang-orang mengharapkan aku untuk kuat, bangkit, tak menangis lagi, tahan banting, tapi tidak. Aku takut kehilangan orang yang aku sayangi. Aku benci ditinggalkan. Aku tak suka diabaikan. Aku takut sakit karena kehilangan kasih sayang. Apa aku salah? Salahkah berharap untuk selalu bersama?

Suara hati: Kau tidak salah. Hanya saja... caramu belum benar. Kau terpuruk pada masa lalu.

Aku: Kemarin kau yang bilang padaku untuk memodifikasi kosakataku. Sekarang kau menggunakan kata-kataku.

Suara hati: Haha, maaf. Aku tak sengaja.

Aku: Mungkin aku memang harus menutup hati. Untuk semuanya.

Suara hati: Sekarang aku ingin bertanya padamu.

Aku: Boleh. Tentang apa?

Suara hati: Siapkah kau untuk itu?

Aku: Aku mencoba untuk siap. Kita tak akan pernah tahu jika tak mencoba.

Suara hati: Bahkan untuk menghabiskan waktu bersembunyi dari cinta?

Aku: Kenapa tidak? Daripada saat aku mengakui cintaku, cinta itu membuat hatiku hancur berkeping-keping. Lagipula, kau kan menyuruhku menikmati dunia.

Suara hati: Tanpa cinta?

Aku: Cinta sahabat, cinta orang tua, cinta kepada Tuhan, semua berharga.

Suara hati: Kau sudah mulai dewasa.

Aku: Belum. Kau yang satu lagi masih membuatku seperti anak-anak. Yang lari dari tanggung jawab. Yang lari dari masalah.

Suara hati: Well, setidaknya kau juga mencoba untuk jadi dewasa.

Aku: Pokoknya aku memutuskan untuk diam saja.

Suara hati: Hati-hati agar tak kehilangan hati.

Aku: Akan kucoba untuk berhati-hati.

Suasana masih sepi.

Tapi, aku tak menangis lagi.


1 Desember 2009

R.A.


p.s. kalimat yang diutarakan tokoh 'aku' tentang cinta yang hancur berkeping-keping itu saya ambil dari sebuah novel terjemahan. saya sangat suka kata-kata itu.
Continue reading Kata Hati (II)
, ,

Kata Hati (I)

Salam, Pembaca!

Saya dapet inspirasi nulis ini setelah baca note dua teman saya di facebook tentang daily conversation antara dua karakter berbeda dalam satu badan. Bedanya, saya menulis tentang saya yang punya dua hati berkepribadian berbeda. Oke, untuk memudahkannya, kita mulai saja. ^^
Happy reading! :))

>>
Hari masih pagi.

Sebuah suara mengusik hati: kelihatannya akan hujan.

Aku: Bagaimana kau bisa yakin? Awan saja kelihatan pun tidak.

Suara hati: Keyakinanlah yang menyebabkan semuanya bisa saja terjadi.

Aku: Oh..

Suara hati: Mengapa?

Aku: Dulu aku yakin akan suatu hal. Tetapi. keyakinanku tidak terjadi, malah sebaliknya.

Suara hati: Itu karena kau mengingkari keyakinanmu. Kau ragu.

Aku: Yeah, mungkin itu memang benar. Maaf karena aku membuatmu terpuruk dalam sudut kesepian.

Suara hati: Aku? Tidak, kok. Aku yang satu lagi yang membuatmu terpuruk sejenak dalam perasaan kesendirian.

Aku: Kau yang satu lagi?

Suara hati: Ya, aku yang labil, penuh emosi, perasa, dan kekanakan. Kau pasti tahu itu kan.

Aku: Mmh. Sebenarnya, tidak. Maaf.

Suara hati: Tidak apa-apa kok, aku mengerti. Biar aku jelaskan. Mau menunggu?

Aku: Boleh, aku tidak terburu-buru kok.

Suara hati: Aku yang satu lagi punya sifat kekanakan. Analoginya adalah seperti anak kecil dan mainan. Seorang anak kecil akan marah, atau paling tidak, menangis, ketika orang lain mengambil mainannya. Begitupun aku yang satu lagi.

Aku: Jadi... kau hendak mengatakan bahwa... kau yang satu lagi memiliki mainan dan... orang lain merebutnya?

Suara hati: Secara harfiah... tidak begitu sih. Tetapi konotasinya begitu. Apa yang sebenarnya terjadi adalah seperti ini: ibaratkan mainan itu adalah teman si aku yang satu lagi, lalu, teman itu dekat dengan orang lain dan kelihatannya tidak peduli dengan aku yang satu lagi. Bagaimana kau pikir perasaan aku yang satu lagi?

Aku: Mmh... kecewa? Sakit hati?

Suara hati: Tepat sekali. Ia akan marah jika ada orang lain yang merebut sesuatu yang selama ini miliknya.

Aku: Mmh... rasanya seperti yang pernah kurasakan.

Suara hati: Mungkin itulah yang kau rasakan. Oh, lihat, mulai hujan kan.

Aku: Ya. Aku mulai tak suka hujan belakangan ini.

Suara hati: Kenapa?

Aku: Saat hujan turun, aku selalu teringat akan kenangan buruk.

Suara hati: Hmm, tapi setelahnya kan ada pelangi? Hujan adalah sebuah proses menuju keindahan. Itu kata Tamaki Suoh dalam komik kesukaanmu.

Aku: Pelangi hanya muncul sesaat.

Suara hati: Disini pelangimu tetap abadi kok. Sadar atau tidak, kau selalu menjaganya agar selalu ada.

Aku: Betulkah?

Suara hati: Iya. Asal kau tahu saja.

Aku: Aku tak pernah merasa punya pelangi.

Suara hati: Begitu? Nyatanya, kau punya. Kau kan tidak bisa terpuruk dalam hujan selamanya. Makanya setiap selesai hujan, kau selalu merasa lega. Setidaknya, lebih baik.

Aku: Untuk merasa lebih baik, aku harus mengingat masa lalu? Harus menunggu hujan turun, baru pelangi itu muncul?

Suara hati: Hmm. Logikanya begitu. Mungkin bukan menunggu pelangi itu muncul, tetapi menunggu pelangi yang disini bersinar.

Aku: Yeah, mungkin kau benar. Haah.

Suara hati: Ada apa denganmu?

Aku: Aku menyakiti diriku sendiri. Lagi.

Suara hati: Pisau rotimu mengiris jari?

Aku: Yep. Oh, dan lihat, darahnya bercucuran.

Suara hati: Bodoh, cepat dicuci. Nanti infeksi.

Aku: Aku tidak mencuci luka di hatiku dan dia tidak infeksi.

Suara hati: Sulit ya berdebat denganmu. Kau tidak menyadarinya. Luka itu begitu besar dan kau berpura-pura tidak melihatnya. Luka itu membekas disini dan kau memaksa tidak melihatnya. Memang dia memperbaiki dirinya sendiri, tetapi masih ada bekasnya.

Aku: Oh.

Suara hati: Bukankah temanmu pernah berkata: SESUATU YANG PATAH BISA DIPERBAIKI, NAMUN HASILNYA TAK SESEMPURNA IA SEBELUM PATAH. Lukamu meregenerasi dirinya, tapi tak sempurna. Dia masih berbekas. Sadarkan kau akan itu?

Aku: Aku tak bisa memungkiri hal itu.

Suara hati: Ingatkah kau pada setiap waktu kau merasa kesal?

Aku: Ingat. Selalu ingat.

Suara hati: Dan kau selalu mengaitkan kekesalanmu dengan masa lalu?

Aku: Ya.

Suara hati: Itu pekerjaan aku yang satu lagi.

Aku: Kau yang satu lagi.

Suara hati: Itulah kesukaannya, mengungkit masa lalu, memaksamu untuk tetap mengingat kejadian-kejadian buruk yang telah lalu, membuatmu marah, kesal, menangisi masa lalu, hal yang seharusnya - sebenarnya - tidak berguna untuk dilakukan.

Aku: Salahkah itu? Menangisi masa lalu?

Suara hati: Aku tidak menyalahkanmu. Boleh saja kita menyesali apa yang sudah terjadi. Tapi jangan berlarut-larut juga. Tidak bagus untuk perkembangan mentalmu.

Aku: Haha. Begitu? Lucu sekali bahasamu...

Suara hati: Hei, aku serius lho...

Aku: Iya iya. Aku tahu aku tak boleh terlarut dalam kesedihan. Dalam masa lalu. Terpuruk dalam kesepian. Tersudut dalam pojok kesenduan.

Suara hati: Hebat sekali kosakatamu. Kau tahu, kau harus memperbaiki kata-katamu sedikit. Jangan stuck pad hal-hal sendu seperti tadi itu. Membuatku juga merasa gundah, kau tahu?

Aku: Yeah, aku mengerti maksudmu.

Suara hati: Cobalah untuk sedikit menikmati dunia.

Aku: Menikmati dunia tanpa teman? Wah, aku akan memberi sejuta dolar kalau ada yang bisa melakukannya.

Suara hati: Apa maksudmu? Kau tak punya teman?

Aku: Well, aku punya banyak teman, sahabat, tapi saat aku tak dihargai - ralat - aku MERASA tak dihargai, aku juga merasa tak punya teman. Lihat kan, aku terbawa masa lalu lagi. Saat tak ada yang menemani. Tak ada yang menyadari aku ada!

Suara hati: Tenanglah. Aku percaya mereka akan selalu ada kapanpun kau membutuhkannya.

Aku: Semoga.

Lalu kami sama-sama terdiam.

Hari masih pagi.

Tapi, hujan sudah berhenti.


29 November 2009

R.A.
Continue reading Kata Hati (I)

For Alice

Salam, Pembaca!
Saya bongkar-bongkar arsip lama dan ketemu file ini.
Happy reading! :))


>>
Denting piano terdengar merdu keluar dari rumah mewah itu. Für Elisè, sonata Beethoven yang terkenal itu. Di film-film Barat, sering dipakai untuk soundtrack film hantu. Biasanya dalam kisah piano kutukan. Katanya, orang yang berinisial E tidak boleh memainkan sonata ini karena ia akan mengalami kesialan. Bahkan, orang yang kurang kerjaan sama sekali mengatakan bahwa saudaranya yang berinisial E pernah jatuh sakit setelah memainkan sonata Beethoven ini. Ah, sudahlah.

Jari-jari Alice yang lentik dengan kuku tumpul karena sering bermain piano itu, menekan tuts dengan irama yang indah. Setidaknya bagi orang awam. Tante Alia, yang adalah saudara kandung ayah Alice sekaligus guru pembimbing Alice memainkan piano, menganggap itu masih terdengar biasa-biasa saja.

Alice sering mengeluh keras-keras tentang hidupnya yang membosankan: anak dari keluarga paling kaya di kota, anak yang harus sekolah di sekolah internasional, anak yang dilahirkan di keluarga pemusik sehingga ayah dan ibunya mengharuskannya pandai bermain salah satu alat musik elit (biola dan piano), anak yang harus latihan piano setidaknya dua jam sehari, anak yang harus bersikap anggun dan pendiam di sekolah, dan sebagainya.
Padahal, seandainya ayah dan ibu Alice tahu apa yang dilakukan anaknya itu setiap berada di kamar bersama teman dekatnya, Tyas, mungkin mereka tidak akan begitu senang.

MP3 player Alice, bukan berisi sonata-sonata Beethoven atau Mozart, tetapi kebanyakan berisi: "Girlfriend"-nya Avril Lavigne, "What I’ve Done"-nya Linkin Park, "Welcome to The Black Parade" punya My Chemical Romance, lagu-lagunya Yellowcard, "Grace Kelly", "Lollipop" dua-duanya milik Mika, dan lagu lain sebangsa itu.

Tepat seusai latihan piano, Tyas datang. Langsung menuju ruang musik tempat Alice latihan piano. Alice menyambutnya dengan gembira.

"Hari ini cukup," ujar Tante Alia sengit melihat Tyas yang nyengir. "Walaupun masih ada nada yang salah. Perbaiki terus kalau kamu mau membanggakan orang tuamu."

"Iya, Tante."

Lalu Tante Alia pun keluar dari ruang musik.

"Ayo," Alice mengajak Tyas menuju kamarnya.

Alice menjatuhkan diri di kasurnya yang dilapisi bedcover warna pink. Nah, satu lagi yang dia sering keluhkan, orang tuanya menyuruhnya menyukai warna pink. Padahal kan Alice suka warna hitam. Tapi tak apalah, katanya waktu itu. "Pink dan hitam, jadi aku tuh 'Princess Goth'," kata Alice nyengir.

"Hem, sebulan lagi kan lomba piano klasik," kata Tyas sambil mendengarkan "Valentine’s Day" punya Linkin Park di MP3 player.

"Terus kenapa?" ujar Alice tak peduli.

"Kamu ikut kan?"

"Mungkin…"

"Lho, bukannya kamu pasti ikut? Ayah dan Bundamu pasti akan menyuruhmu ikut."

"Iya sih…"

"Kamu harus bersyukur dong, Alice. Kamu diberi banyak kenikmatan yang orang lain nggak punya."

"Aku bersyukur, kok. Aku memang menyukai piano sejak kecil, jadi latihan Tante Alia pun aku anggap biasa saja."

"Berarti kamu pasti ikut lomba itu kan?"

"Ya."

Handphone Alice berdering.

"Dari Tom," ujar Tyas, menyodorkan handphone itu pada Alice.

"Yaa."

"Alice! Pinjem buku Fisika…" teriak Tom.

"Kenapa sih?"

"Kamu tadi pasti perhatiin nenek sihir itu ngoceh di depan kelas kan?"

"Beliau bukan nenek sihir," Alice tersinggung.

"Ya… gitu deh! Pokoknya, aku akan ke rumahmu sekarang. Kamu nggak lagi di ruang musik kan?"

"Nggak. Emangnya kenapa?"

"Apa kamu lupa? Aku kan alergi sama yang namanya piano."

"Ooh, iya ya."

"Ya udah…"

Alice menutup handphone-nya.

Tom adalah cowok-paling-tidak-punya-malu yang pernah Alice kenal. Satu lagi yang sering Alice keluhkan keras-keras kalau Tom ada disampingnya: "Nasibku sial banget deh. Udah ditimpa berbagai kesulitan di keluarga, eh… malah dapet sahabat sejak kecil yang kayak gini."

Yah, meskipun begitu, Tom adalah teman kecil Alice. Makanya ia tahu segalanya tentang Alice. Dan Alice pun tahu semua tentang Tom: cowok bandel, usil, berantakan, dan satu lagi: benci sekali piano. Ini sih katanya. Dia lebih suka bolos dari kelas musik daripada diam di kelas, mendengarkan guru berbicara tentang not balok, kunci G, garis paranada, Wolfgang Amadeus Mozart, dan lainnya. Alice maklum sih.

Ternyata di sebuah sekolah internasional pun, masih ada murid seperti Tom, yang sering bolos di kelas musik bersama keempat temannya, yang sering tidur di kelas Fisika, yang bengong di kelas Biologi, yang ngobrol di kelas Kimia, tetapi sangat pintar di Bahasa Inggris. Kata Tom, biar jadi sejarah di sekolah ini.

Masalahnya adalah, Tom cukup keren. Sepertiga anak cewek di kelas matematika-nya mendaulat dia sebagai "most wanted" untuk jadi pacar mereka. Alice geleng-geleng kepala saja melihat cewek-cewek itu.

Alice tersenyum sedikit hari itu, saat mengenang betapa cewek-cewek itu begitu ingin mendekati Tom, sampai mengikutinya sepanjang hari.

"Jangan melamun," ujar Tante Alia. Alice tersentak. Tapi jarinya masih bergerak sesuai irama lagu.

"Nah, seminggu lagi kamu tampil di gedung pertunjukan. Tante sudah suruh tetangga Tante mendaftarkan kamu di lomba itu, karena Tante setiap hari harus membimbingmu bermain piano, belum lagi les privat anak-anak lain, sehingga Tante tidak mempunyai banyak waktu," Tante Alia berkata seolah Alice-lah yang membuatnya tidak memiliki waktu luang.

Alice manyun.

"Apa? Lomba lagi? Tapi piala kamu kan udah banyak banget…" Tom melayangkan pandangan ke lemari kaca berisi piala-piala kejuaraan yang pernah Alice dapat. Mungkin ada sekitar seratus piala disitu.

"Kamu tahu kan Tante Alia, Ayah, dan Bundaku? Mereka pasti bakal kecewa kalau aku nggak ikut lomba itu. Lagipula aku udah latihan berbulan-bulan, percuma dong."

"Tapi, Alice…" Tom kelihatannya ingin sekali mencegah Alice mengikuti lomba itu.

"Nggak apa-apa kan, Tom?"

"Iya sih. Ya udah deh, selamat ya."

Alice tersenyum.

* * *

Hari perlombaan, Alice terlambat bangun.

"Bunda udah suruh Tante Alia ke gedung duluan. Ntar kamu nyusul aja sama Tyas," sahut Bunda.

"Hooh…." desah Alice lega.

Mobil Tyas melaju agak kencang menuju gedung pertunjukan. Semoga Tante Alia udah daftar ulang… gumam Alice.

Tante Alia terlihat agak suram hari ini, menunggu Alice di depan pintu aula tempat lomba itu.

"Tante… maaf, Alice tadi telat bangun… tapi belum sampai giliran Alice kan? Tante?" tanya Alice takut.

Anehnya, Tante Alia tidak marah, bahkan tidak menunjukkan sinar mata tajam yang biasanya.

"Memang belum sampai… dan tidak akan sampai…" kata Tante Alia.

"Hah? Apa mak…"

"Kamu tidak terdaftar sebagai peserta, Alice."

Alice kaget setengah mati.

"Nggak… terdaftar… jadi… peserta?"

Dia langsung berlari ke tempat pendaftaran. Tyas buru-buru mengejarnya.

"Permisi, Mbak… bisa tolong cek nama saya di daftar peserta lomba?"

"Ya… siapa nama Adik?" tanya panitia itu, sembari melihat daftarnya.

"Alice Tyara Putri."

"Alice Tyara Putri… hmmm. Aneh. Disini tidak ada nama itu. Apa Adik sudah mendaftar?"

"Coba cek lagi, Mbak…"

"Tidak ada sama sekali. Maaf…"

Alice merasa sekelilingnya menjadi hitam. Tyas menghiburnya.

"Alice… Tante yang salah. Anak tetangga Tante tidak pernah mendaftarkan kamu di lomba ini…" Tante Alia memeluk Alice erat.

Alice tidak bisa berbicara.

"Sekarang kita terpaksa hanya bisa menonton."

Alice, Tyas, dan Tante Alia menuju ke deretan tempat duduk penonton paling belakang.

Anehnya, Alice merasa ia rindu pada Tom. Kenapa dia tidak datang? Mestinya kalau dia tahu aku ikut lomba ini, dia datang kan?

Saat itu, Tom memang sudah datang. Tetapi, tidak sebagai penikmat musik klasik yang dimainkan di aula gedung.

Tom hadir sebagai peserta dengan nomor 16. Dia memainkan sonata Beethoven, Moonlight. Dengan sangat indah. Bahkan Tante Alia terhanyut.

Alice dan Tyas kaget berat melihat Tom. Apalagi Alice. Ketika Tom selesai memainkan pianonya, dia bangkit dari duduknya dan memberi hormat pada penonton, yang melakukan standing applause. Alice bertepuk tangan paling keras, berharap Tom mendengarnya, tetapi tempat duduk mereka memang terlalu di belakang, hingga Tom tidak melihat tiga orang yang dikenalnya disana, dan cowok itu langsung pergi ke belakang panggung.

"Pengumumannya besok," kata Tante Alia, menjawab pertanyaan Alice yang tak-terkatakan. Alice mengangguk cepat, matanya masih menatap pintu yang baru saja dilewati Tom.

Untuk mendapat jawaban yang memuaskan atas penampilan Tom di lomba itu, Alice pergi ke rumah Tom sore harinya. Entah sudah berapa lama dia tidak pergi ke rumah Tom, sampai dia lupa akan keadaan rumahnya. Sekarang sudah ada tanaman anggrek yang indah di halaman rumahnya.

Tom mendatangi Alice dengan senyuman.

"Hai."

"Hm."

"Jadi… gimana?"

"Lombanya? Aku nggak ikut, ternyata nggak didaftarkan."

"Bukan, maksudku anggreknya."

"Anggrek? Jadi itu kamu yang tanam?"

"Buat kamu."

"Buat aku?"

"Ya udah deh, ayo masuk."

Sekali lagi Alice melirik ke arah bunga-bunga anggrek indah itu.

"Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Alice.

"Bilang apa?"

"Kalau kamu ikut lomba piano itu."

"Buat kamu."

"Apaan sih, buat aku-buat aku terus? Trus kok ada piano di ruang keluarga?"

Tom duduk di depan piano itu.

"Katanya kamu benci piano," kata Alice.

Tom tidak menjawab. Ia malah memainkan Für Elisè.

"Tom!"

"Kamu tahu lagu ini?" tanya Tom.

"'Für Elisè' kan?"

"Bukan. For Alice."

"For… for Alice? For me?"

"Ya, buat kamu… biar jadi kejutan aja."

"Ya ampuun, Tom."

"Kamu suka?"

Alice berhenti sejenak mengeluh.

"Suka."

Tom berhenti memainkan piano.

"Sukaaaaa banget."

Mereka tersenyum bersama.


R.A.

n.b. ini cerpen yang saya bikin waktu kelas dua SMA, kalau tidak salah, jadi harap maklum kalau lagu-lagu yang saya sebutkan dalam cerpen ini tergolong 'jadul', haha. Menurut saya, cerpen ini: kebanyakan dialog, klimaksnya kurang greget, dan begitu banyak kekurangan pada cerpen ini. ==' Well, at least, masih bisa dibaca. :))
Continue reading For Alice