Kamis, 11 November 2010

, , , ,

4Tomorrow - Tomorrow (plus Translation)

Tumben-tumbenan saya memposting lirik lagu di blog saya, hahaha. Ini karena saya baru menyadari bahwa lagu ini bagus banget~! Sebuah lagu Korea, tentu saja.

Silakan dinikmati :)

Sometimes we make mistakes, you know?
Sometimes you feel like a broken angel on the ground (It's OK, we're not perfect)
Sometimes you feel like a symphony without a sound (I told you it's OK, Cuz we're young)

Tomorrow, nan sesanggwa ssawo ssawo igyeo
Tomorrow, naneun namanui giri isseo
Tomorrow, geudaewa ip matchuneul haneun
Tomorrow, now I can do it for sure

I can make it right, I can make it right
I can make it right, I can make it right

It's gonna be shine after the rain
Sseureojyeodo dasi back to da game
Jomangane uulyeopeojil my name sarmui bicheul ttaraseo
Keep runnin'pogiran eobseo
Keep goin nan kkeutkkaji ga
I go for the knock out gyesok ttwidabomyeon
I'll be on the top

(Until get what's mine) jogeum deo himeul nae
(Until get what's mine) nothin can stop me
I'll be on the top
I feel like ooh~
You'd better watch me shine

Tomorrow, nan sesanggwa ssawo ssawo igyeo
Tomorrow, naneun namanui giri isseo
Tomorrow, geudaewa ip matchuneul haneun
Tomorrow, now I can do it for sure

I can make it right, I can make it right
I can make it right, I can make it right

Jae meolli meolli jom deo naeun naeiri

Neoreul gidarigo isseo
Boda nopi nopi nalgi whihan nalgaejit
Nan oneuldo dalligo isseo
Sesanggwa dameul ssaha anheun byeogeul mandeuro (Just like me against the world)

Gwireul datgo sipeun soriman deuri=eo sabangi jeok
Geu nugudo nal iae motaneun jeok
Banghanui nunbit onmomi gasi gadeukhaetdeon nae gwageo (But now I'm changed)

Tomorrow, nan sesanggwa ssawo ssawo igyeo
Tomorrow, naneun namanui giri isseo
Tomorrow, geudaewa ip matchuneul haneun
Tomorrow, now I can do it for sure

I can make it right, I can make it right
I can make it right, I can make it right

Oh ooho, oh ooho

Naeiri gidaryeojyeo dugeun dugeun tomorrow

Nah, buat yang nggak ngerti, ini translation dalam bahasa Inggrisnya :)

TRANSLATION

Sometimes we make mistakes, you know?
Sometimes you feel like a broken angel on the ground
(It’s OK, we ain’t perfect)
Sometimes you feel like a symphony without a sound
(I told it’s OK, Cuz we’re young!)

Tomorrow, I will overcome the world
Tomorrow, I have a path designated for me
Tomorrow, my lips meeting his
Tomorrow, Now I can do it for sure

I can make it right
I can make it right
I can make it right
I can make it right

It’s gone, be shine after the rain
Even if you collapse, get back 2 da game
My name echoing in a short time
Follow the light of the life

Keep runnin, can’t give up
Keep goin’ till the end
I go for the knock out, if I keep running I’ll be on the top

Until get what’s mind/ Hang in there
Until get what’s mind/ Nothin’ can stop me
I’ll be on the top/ I feel like ooh-
You’d better watch me shine

Tomorrow, I will overcome the world
Tomorrow, I have a path designated for me
Tomorrow, my lips meeting his
Tomorrow, Now I can do it for sure

I can make it right
I can make it right
I can make it right
I can make it right

From far-far away, a better tomorrow
Is waiting for you
Flap those wings to fly higher and higher
I am still running

Build a dam with the world, make it with invisible blocks (just like me agasint the wall)
Close your ears and only listen to what you want
Foes everywhere, foes who can’t understand me
Cold glares, in the past I was coated with thorns (But man, I’m change)


Tomorrow, I will overcome the world
Tomorrow, I have a path designated for me
Tomorrow, my lips meeting his
Tomorrow, Now I can do it for sure

I can make it right
I can make it right
I can make it right
I can make it right

Can’t wait until tomorrow, Tomorrow~
Continue reading 4Tomorrow - Tomorrow (plus Translation)

Kamis, 28 Oktober 2010

, , ,

Short Message Service

Anggy: "Itulah alasan mengapa ada sebuah kalimat yang berbunyi: 'hanya ada sebuah garis tipis antara cinta dan benci'."

Antiq: "Tentang?"

Anggy: "Yours"

Antiq: "Mungkin suatu saat aku bisa benar-benar membenci mereka."

Anggy: "Siapa yang cepat dia yang dapat... toh belum ada apa-apa..."

Antiq: "Belum resmi."

Anggy: "Inget, sugesti mempengaruhi pikiran, dan pikiran mempengaruhi tindakan... dan tindakan mempengaruhi sikap... dan sikap mempengaruhi penilaian seseorang..."

Antiq: "Maksudnya aku harus mencoba untuk gak mulai membenci mereka?"

Anggy: "Lho, inget tujuan awalmu lah, kamu 'mencoba' kenal dia buat apa!"

Antiq: "Untuk mencintai dia. Tapi, aku sudah menyerah untuk memiliki dia."
Continue reading Short Message Service
, , ,

Me, Myself, and I

A daily conversation between me, myself, and I.

Myself: "Serius kamu mau berhenti?"

Me: "Yup."

I: "Kenapa?"

Me: "Karena sudah tak ada yang bisa diperjuangkan lagi."

I: "Meskipun kamu berusaha, mencoba, berharap, berdoa?"

Me: "Tetap saja ada hal-hal yang tidak akan terkabul."

Myself: "Kurasa aku paham perasaanmu."

Me: "Aku sudah tidak punya alasan untuk berjuang."

I: "Aku tidak paham. Kenapa kamu tidak mencoba membuat alasanmu sendiri?"

Myself: "Karena dia terlalu jauh untuk dicapai. Ya kan?"

Me: "Benar."

Myself: "Dan kamu terlalu sakit hati dengan 'mencoba' mencintainya."

Me: "Yup."

I: "Aku masih tidak paham. Bukankah kamu tulus menyukainya?"

Me: "Aku memang tulus. Buktinya, aku tidak berhenti berharap. Aku tidak akan pernah bisa benar-benar berhenti berharap. Tetapi, aku sudah menyerah untuk memilikinya."

Myself: "Lagipula, buat apa mengejar yang kemungkinan kecil kita bisa memilikinya? Lebih baik melihat ke depan dan menghadapi apa yang sudah ada. Belajar bersyukur."

I: "Maksudmu, belajar mencintai seseorang yang mencintai kita dan mengenalnya lebih dekat?"

Me: "Ya, itu lebih menyenangkan, kan?"

Myself: "Karena rasanya menyenangkan kalau kita tahu ada yang mencintai kita. Yang selalu memperhatikan kita. Yang selalu menunggu kita."

Me: "Melihat orang yang selalu melihat kita."

I: "Dan melupakan orang yang tidak melihat kita?"

Myself: "Ralat: tidak BISA melihat kita."

Me: "Atau tidak mau karena sudah terikat."

I: "Dalam kasusmu, dia belum terikat."

Myself: "Setidaknya hatinya sudah terikat."

Me: "Dan akan sangat susah untukku masuk dalam hati itu."

I: "Kamu sudah coba?"

Me: "Mencoba, dan gagal."

I: "Dan kamu sudah menyerah?"

Myself: "Karena tidak ada alasan lagi untuk memperjuangkan apapun."

I: "Bahkan untuk menjadi dirimu sendiri dan membiarkan dia yang memperhatikanmu?"

Me: "Aku baru sadar bahwa itu hanya khayalan belaka."

Myself: "Yang hanya sepersekian ratus persen kemungkinannya akan jadi nyata."

Me: "Begitulah."

I: "Well, semua terserah padamu. Setiap orang punya caranya masing-masing. Tapi, kalau terjadi sesuatu, aku siap menemanimu."

Myself: "Ya, karena kita satu."

Me: "Maksudnya?"

Myself: "Aku, kamu, dia, kita sama. Satu tubuh. Satu badan. Satu jiwa."

Me: "Jadi, pembicaraan ini terjadi dimana?"

I: "Entahlah, mungkin pikiranmu?"

Myself: "Bisa juga hatimu."

Me: "Hatiku sudah rusak."

I: "Kalau begitu perbaikilah."

Myself: "Secepatnya."

Me: "Akan kucoba. Tapi aku butuh bantuan kalian."

Myself: "Selalu."

I: "Jangan khawatir."

Me: "Terima kasih."
Continue reading Me, Myself, and I

Senin, 25 Oktober 2010

, , , ,

Let You Go :)

Salam, Pembaca!

Udah lama nggak nge-blog, jadi kangen deh hahahaha. Oke, postingan saya kali ini gak jauh-jauh dari tema-tema sebelumnya, C.I.N.T.A.
Kenapa?
Adakah yang bosan dengan cinta?
Maafkan saya kalau begitu. :p
Saya cuma ingin sharing tulisan saya, hahahaha.
Happy reading! :))

>>
Sejak awal kusadari bahwa aku salah mencintaimu. Mengutip kata-kata dari salah satu novel yang pernah kubaca, cintaku telah gagal sejak pertama kita bertemu.
Kau tak tahu bagaimana aku cemburu.
Karenamu.
Karena orang lain.

Kau tidak tahu bagaimana aku menyayangimu.

Aku bukanlah penyair yang baik, tapi izinkan aku mengatakan ini: kau adalah temanku melukis pelangi saat rintik gerimis membasahi bumi.

Kau tak tahu betapa bersyukurnya aku menemukanmu. Menemukanmu adalah sebuah keindahan.

Aku mencoba membingkaimu dalam kenangan dan menyusunmu dalam memoriku.

Namun ketika aku masih mencoba, kau pergi. Seolah angin membawamu tanpa izinku.

Dan aku tersadar: siapa sebenarnya aku? Aku bukanlah seseorang yang terikat denganmu. Kau bisa pergi sesuka hatimu; kau seperti ikan yang bebas berenang di lautan. Kau bisa terbang dibawa angin; kau seperti burung yang bebas terbang sesuka hati.

Setelah burung itu pergi, kandangnya pun kosong. Angin yang berhembus melalui jelujur-jelujurnya menghembuskan semerbak kesepian.

Dan setelah ikan itu pergi, badai pun datang. Badai yang mengalir membawa serta kenangan. Badai yang meniupkan seberkas kepalsuan. Demi cinta dan persahabatan.

Alam bertindak tak adil; dia tak menyisakan pelangi untukku. Untuk kita lukis bersama lagi. Hingga sekejap perih ujian kehidupan tak bisa kuusaikan.

Mataku membuat pelangi abu-abu. Pelangi yang tak dihiasi setitik warna pun.

Sebab kaulah yang membuat hidupku berwarna.

Kau tak tahu betapa aku menyayangimu.

Tetapi mengharapkanmu seperti mengharapkan hujan di musim kemarau.

Karena kau begitu jauh.

Dan yang bisa kulakukan sekarang hanyalah melepasmu.

Menghentikan perasaan yang semakin berkembang ini.
Sebelum berkembang pesat dan membuatku semakin sakit hati.

So,
Selamat tinggal~!

R.A.
25 Oktober 2010
17.34
Continue reading Let You Go :)

Kamis, 07 Oktober 2010

, , , ,

Ginny's Love Story

Ginny mulai suka pada Harry bahkan sejak Ginny belum masuk Hogwarts. Di tahun kedua Harry, Ginny yang baru masuk Hogwarts digambarkan sebagai seorang gadis kecil yang sangat suka pada Harry dan selalu salah tingkah setiap bertemu Harry. Dia tak pernah bicara di depan Harry karena malu.
Akan tetapi berkat saran Hermione 'bagaimana kalau kau mencoba menjadi dirimu sendiri? Dengan begitu mungkin Harry akan sedikit lebih perhatian padamu...' Ginny pun menyadari bahwa menjadi diri sendiri adalah pilihan yang terbaik. Ginny jadian dengan Michael Corner di tahun keempatnya, yaitu tahun kelima Harry sekolah di Hogwarts. Di tahun kelima Ginny, Harry mulai menyadari bahwa Ginny cukup menarik. Dia dan Ron menyebut Ginny 'agak populer'. Setelah Ginny putus dari Dean Thomas di tahun kelimanya, Harry agak galau karena harus memilih antara Ron dan Ginny - sahabat dan adik sahabatnya. Tetapi pada akhirnya, Harry jadian dengan Ginny.

Dari yang sikapnya biasa saja sampai yang jatuh cinta begitu dalam. Kisah cinta Harry dan Ginny begitu indah, menurut saya. Kenapa bisa tumbuh cinta di hati Harry, padahal sebelumnya Harry mencintai Cho Chang?

Mungkin karena Ginny adalah Ginny. Ginny bukanlah orang yang tahan berdiam saja. Kata Ron 'biasanya mulutnya tak pernah berhenti mengoceh'. Ginny bukan Ginny ketika ia pertama kali sangat menyukai Harry. Ginny mencoba menjadi dirinya sendiri.

Benar kata Hermione. Menjadi diri sendiri dan membiarkan orang yang kau sukai memperhatikanmu.

Situasiku sedikit banyak agak mirip dengan situasi Ginny pada awal dia menyukai Harry. Lidahku yang mendadak kelu ketika melihatnya. Jantungku yang mendadak berdebar kencang ketika memandangnya. Bahkan membaca namanya. Mendengar seseorang menyebut namanya. Hatiku yang mencelos ketika mendekati dirinya.

Tetapi, aku sadar aku tak bisa begini terus. Mungkin aku harus mengikuti saran Hermione pada Ginny. Menampilkan sosok 'aku' yang sebenarnya. Be yourself. Even if you are nobody.

Aku mungkin bukanlah seorang mahasiswi yang akan aktif di berbagai organisasi fakultas atau bahkan universitas. Aku juga bukanlah seorang mahasiswi yang eksis di kalangan senior dan junior (di masa mendatang). Aku bukanlah seorang mahasiswi yang juga aktivis.

Aku cuma mahasiswi biasa yang sedang belajar menjadi seorang dokter gigi. Aku cuma mahasiswi biasa yang masih harus belajar dan berusaha mendapat nilai A di setiap mata kuliah. Aku cuma mahasiswi biasa yang ingin memperoleh IP tinggi di setiap mata kuliah. Aku cuma mahasiswi biasa yang ingin menjalani hidup yang bebas, tapi bertanggung jawab.

Aku cuma mahasiswi biasa yang ingin membahagiakan kedua orangtuaku dan keluarga besarku. Aku cuma mahasiswi biasa yang ingin membuat bangga kedua orangtuaku. Aku cuma mahasiswi biasa yang sayang pada adikku, sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku, teman-temanku.

This is Me.

Dan aku sedang berusaha menjadi 'aku' yang sesungguh-sungguhnya.

Bukan untuk diperhatikan olehnya.

I'll try to be me.

Mungkin aku memang bukan siapa-siapa untukmu. Aku tidak seperti Ginny yang adalah adik sahabat Harry. Aku bukan adik sahabatmu. Aku hanya adik angkatanmu. Aku hanya juniormu.

Intinya: I AM NOBODY.

BUT I TRY TO BE SOMEBODY.

HOW?

Menjadi diri sendiri.

Memberanikan diri. Membiasakan diri.

Begitukah?

Ya, kurasa begitu.

Seperti Ginny. Yang jadian dengan beberapa orang sebelum akhirnya Harry menciumnya dan kencan dengannya. Dan pada akhirnya mereka menikah.

Karena seperti Ginny, aku tak bisa benar-benar berhenti mengharapkannya. Tak akan pernah bisa.

Dan sekarang aku benar-benar menyadari bahwa situasiku persis dengan situasi Ginny.

Tetapi, mungkinkah kisahku nanti akan berakhir seperti kisah indah Ginny dan Harry?

Belum tentu.

Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Dan, siapa yang mengaturnya?

TUHAN.

R.A.
7 Oktober 2010
22.18
(sebelas hari lagi menjelang UTS :D)
Continue reading Ginny's Love Story

Senin, 04 Oktober 2010

, , , , ,

Rhapsody in Pelatnas (part XIV)

Salam, Pembaca!

Keadaan hati saya sedang galau. Bimbang sekali. Tapi apapun yang terjadi, ku kan selalu ada untukmu (?) ahahah bercanda saja saya. Maksud saya, saya akan tetap menulis untuk memenuhi hasrat saya (?) hehehe.

Happy reading! :))

>>
Simon terlihat salah tingkah melihat ekspresi Maria.

Greys mengangkat alisnya. "Hayoooo..." candanya.

"Hahahahah..." tawa Simon gugup. Dia menurunkan tangannya dari kepala Sonya.

Maria mulai merubah ekspresinya. "Woooo..." sedikit senyuman muncul.

Sonya tambah gugup lagi. "Eh..."

Greys tampak senang. "Mon, loe yang konsisten doong, Marsel ya Marsel aja, Sonya ya Sonya aja..."

Simon tertawa lagi. "Iya gue konsisten kok Greys... hahaha."

"Nah itu ngapain ngelus Sonya?"

"Cuma ngacak rambut Sonya aja..."

"Alasannya?"

"Gemes..."

Simon tertawa. Sonya menunduk, tak berani menatap Maria ataupun Greys ataupun Simon.

Greys manyun. "Itu tandanya loe masih belum konsisten, Mon!"

Maria tersenyum. "Udah deh Greys... hehehe jangan sindir-sindir Simon terus ah."

"Yaah lu gue belain malah lu belain Simon, gimana sih lu Sel..." sahut Greys cemberut.

"Emang apa salahnya sih ngacak rambut adek sendiri...?" tanya Simon bercanda.

Kali ini Sonya mendongak.

Adik. Cuma sebatas itukah perasaan Kakak terhadapku?

"Oooh, loe sembunyi di belakang kedok 'adik', yaaa," kata Greys. "Ntar tiba-tiba jadian, loe masih ngeles juga? Ckckckckck."

Maria tersenyum. "Sudahlah..."

Simon agak sedikit gugup mendengar Maria. Diliriknya gadis itu, yang kemudian memberinya pandangan menenangkan.

Sonya melihatnya, dan bingung sendiri mengartikan pandangan Maria pada Simon. Yang dapat ia tangkap, Simon kelihatannya mulai rileks.

* * *

"Oke, mau nonton apa?" tanya Kido sesampainya mereka di bioskop.

"Film horor terbaru," kata Shendy nyengir.

"Nggak mau," Sonya, Pia, Nitya dan Maria serentak menolak mentah-mentah.

Tina menggaet tangan Hendra.

"Kenapa, Dek?" tanya Hendra tersenyum pada kekasihnya. "Takut nonton film horor?"

"Ah, ntar kalo ada apa-apa kan kamu bisa peluk Hendra, Tin..." kata Febe iseng.

"Terus gue peluk siapa dong kalo ada apa-apa?" tanya Greys cemberut. "Frans kan gak ada..."

"Elo mah bisa jaga diri sendiri, ngapain peluk-peluk orang, gak ada juga yang mau dipeluk ama elo, hahahah..."

Sebelum Ahsan selesai bicara, Greys sudah meninju bahunya keras-keras.

"Sirik! Huh! Bilang aja lo kangen dipeluk gue!"

Sontak terdengar seruan usil dari kerumunan kecil itu.

"Cieeeeee..." kata Bona.

"CLBK," komentar Hayom. "Hahahahahaha."

"Heeei, gue telepon Frans nih yaaaa... hehehehe," ujar Alvent iseng, sambil mengutak-atik ponselnya.

"JANGAAAAAAAN," tolak Greys memelas.

"Ciiieeeeeeee," gumam Febe dan Shendy berbarengan. "Awas lho Greys, jangan-jangan..."

"Apaan sih, udah ah," kata Ahsan menyela. "Gue ama Greys cuma sahabat."

"Duluuuuu," tambah Nitya.

"Sekarang juga," tegas Greys.

"Iya," gumam Ahsan mengangguk, mempertegas.

"Waaah, tumben akuur, dulu sering berantem padahal, hahahaha," sindir Shendy.

"Heeei, sudahlah, kasihan mereka, jangan disudutkan gitu doong," cegah Maria sebelum mereka berbuat lebih jauh (?).

"Iya, lagian kan mereka sekarang udah bareng pasangannya masing-masing, jadi mending kita sekarang doain supaya mereka langgeng..." tambah Simon.

"Cieeeeeee..." terdengar sorakan ramai lagi.

"Sekarang kalian berdua nih yang kompak," komentar Hendra.

"Waaaah, nggak benar ini, jangan-jangan ada affair ya, ahahahaha," canda Yunus.

Sonya hanya terpaku di tempatnya.

Simon melirik Sonya. "Nggak kok. Udah ah. Mau nonton apa niih?" pandangannya terarah pada Sonya.

Sonya baru sadar dia dipandangi Simon yang menunggu jawabannya. "Hah? Saya? Terserah Kakak aja deh..." senyumnya.

"Jiaaaaah udah terserah-terserah aja nih, jangan-jangan..." sindir Shendy, tapi tak meneruskan kalimatnya.

"Shendy, jangan gosip deh..." kata Maria. Senyumnya menawan, tapi juga memperingatkan.

Age mengangkat alisnya. "Wheeeew! Ayo. Kita nonton film fiksi itu aja. Tentang mitos Yunani."

"Jangaaan, bikin ngantuuuk!" tolak Febe.

"Action?" usul Age lagi.

"Kekerasan," komentar Nitya, diiyakan Tina.

"Gimana kalau 'Masa-masa Kejayaan Abraham Lincoln'?" saran Shendy ngasal.

"Asal baca aja ya lo Shen," timpal Age datar.

"Gue berani taruhan seribu dolar Zimbabwe kalo kita semua bakal tidur kalo kita nonton film macam itu," kata Yunus.

"Lebai lo ah," komentar Bona.

"Zzzzzzz."

"Ya udah, itu ada film kartun, siapa yang mau..."

Bahkan sebelum Kido selesai bicara, semua orang sudah mulai protes.

"Anak kecil yang mau nonton film itu!" (--> sindiran tajam euy...)

"Mending gue pulang nonton film Korea di laptop gue..." (--> kira kira ini protesannya siapa yaa ahahaha :p)

"Masih ada yang lebih bagus, Bang..." (--> kalau bukan Pia, ya Bona...)

"Belajar dewasa dong!" (--> sadis!)

"GRRR." (--> siapa yang menggeram ini?)

Kido manyun. "Iya deeeh, mangap, mangap..."

"Mulut Uda yang mangap... zzzzz." (--> kayaknya ini Pia)

"Itu deeeh, ada film bagus, dokumenter bencana gitu..." usul Tina. (film macam apa ini? zzzz)

"Oke, semua setuju?" tanya Kido sebagai ketua geng. (:p)

Tidak ada yang protes, maka perdebatan tentang film pun berakhir, dan Kido membeli tiket untuk mereka semua.

* * *

"Sudah kuduga akan begini jadinya..." komentar Greys galau.

Mereka bertujuhbelas dibagi menjadi dua barisan. Sembilan di baris atas, delapan di bawahnya.

Urutan sembilan orang diatas adalah: Kido, Pia, Bona, Maria, Alvent, Nitya, Age, Shendy, dan Hayom. Di barisan bawah: Hendra, Tina, Simon, Sonya, Ahsan, Greys, Yunus, Febe.

"Kenapa dapet jackpot dua kali sih," gumam Sonya dalam hati. "Seneng sih, seneng... tapi nggak enak sama Kak Marsel..."

Sonya sudah akan meminta untuk pindah duduk ke kursi Maria. "Mbak Sel..."

"Iya, Dek?" tanya Maria yang tersenyum manis.

Tetapi Simon keburu mendengar percakapan itu dan menyuruh mereka diam. "Ssst, tuh filmnya udah mau mulai..."

Sonya pun kembali duduk (agak tidak nyaman) di kursinya. Berusaha menikmati film.

Tapi Sonya sama sekali tidak bisa tenang. Dia bisa mendengar desahan napas Simon di sebelahnya. Dia juga bisa merasakan tatapan tajam Maria dari bangku belakangnya.

Ini benar-benar tidak nyaman.

Tina malah merasa sebaliknya. Dia tenang sekali di sebelah Hendra. Meski begitu matanya tak bisa mengalihkan pandangannya ke Ahsan dan Greys yang duduk bersebelahan. Sesaat pikirannya teralihkan oleh pembicaraan mereka ketika berdebat tentang film tadi. Tentang Hayom yang berkata 'CLBK' pada Ahsan dan Greys. Benarkah mereka dulu sempat berpacaran, lalu putus? Atau, mereka saling suka, tetapi tak bisa mengutarakannya? Aah, Tina bingung.

Kemudian ditatapnya Hendra.

"Kenapa?" tanya Hendra tersenyum.

"Enggak," gumam Tina, membalas senyumannya.

Tina sedang belajar bersyukur.

Greys dilema. Ahsan di sebelahnya. Sudah lama Greys tak memandang Ahsan dari samping. Dulu itulah yang disukai Greys. Postur tampak samping Ahsan yang memesona.

Ahsan sadar dirinya dipandangi. "Kenapa lo?" tanyanya datar.

Greys mengangkat alis. "Kagak," gumamnya, agak sedikit malu. Ia teringat Frans.

Ahsan tampak salah tingkah, lalu menaikkan kacamatanya. "Gimana... lo sama Frans?"

"Gue?" Greys kaget ditanyai seperti itu. "Baik-baik aja kok. Lo gimana?"

"Hahah... lagi mesra-mesranya..."

"Iyalah, baru jadian, hahahaha."

"Nah, itu tau."

"Soalnya gue juga gitu," gumam Greys senang.

"Cieeeeee..."

Greys tersenyum. Betapa menyenangkannya masih bisa tertawa dengan orang yang dulu ditaksirnya, sahabatnya kemanapun ia pergi, dan sekarang, setelah mereka masing-masing punya pasangan, mereka masih bisa sedekat ini. Sebagai teman dekat.

Greys juga sedang belajar bersyukur. :))

* * *

to be continued...

Disclaimer: maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca, ini sekali lagi, hanya khayalan saya, tidak ada hubungannya dengan cerita, tempat, waktu, dan orang yang bersangkutan. :)) Murni untuk kepentingan hiburan saja.

R.A.
5 September 2010
Continue reading Rhapsody in Pelatnas (part XIV)

Senin, 20 September 2010

, ,

Surat Untuk Kak Simon Santoso :3

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Kak Simon yang berulangtahun ke-25 pada tanggal 29 Juli ini ^^
Happy birthday, Kak!


>>
Aku masih disini, duduk bersandar di jendela kamar, sesekali memandang keluar jendela. Menatap derasnya hujan yang menghujam tanah. Hujan, yang berikan kesegaran pada dunia, yang berikan kehidupan pada semua. Sebuah proses menuju keindahan - pelangi, salah satu mahakarya Sang Pencipta.

Dan aku masih disini, menulis surat ini, menulis prosa tanpa makna, yang kuharap bisa kuserahkan pada Kakak. Entah sampai kapan aku menunggu, aku sudah tak tahan lagi, jadi aku harus berbuat sesuatu.

Bagiku, Kakak adalah inspirasi. Bagiku, Kakak adalah motivasi.

Bagiku, Kakak adalah segalanya.

Apakah aku terlalu berlebihan? Menurutku tidak. Karena perasaan yang kurasakan ini berharga. Aku ingin menjaganya sampai rumput berhenti bergoyang. Hingga planet-planet bertabrakan. Hingga hujan tak pernah turun lagi. Hingga mentari enggan bersinar lagi. Untuk selamanya.

Aku ingin menjadi yang pertama yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Tetapi aku sadar aku tak punya kesempatan. Aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang menyayangi Kakak. Tak ada yang bisa kuberikan selain surat ini - yang, kuharap, sekali lagi, bisa kuserahkan pada Kakak. Aku pun tak punya maksud tertentu menulis ini. Aku cuma ingin Kakak tahu bahwa ada yang selalu mendoakan, memperhatikan, dan menyayangi Kakak.

Aku mencoba menikmati tetes-tetes hujan yang turun deras. Deras, tapi teratur. Seperti nafas. Jantung yang menakjubkan. Berdebar seiring perasaan manusia. Dan jantungku sendiri ikut berdebar tanpa sebab ketika melihat Kakak, menyebut nama Kakak, membaca nama Kakak. Semua tentang Kakak.

Kalau begitu, cintakah aku pada Kakak?

Kurasa jawabannya tidak.

Karena aku sadar. Bahwa perasaan ini, semua, hanyalah rasa kagum. Rasa kagum seseorang pada idolanya. Rasa kagum seseorang pada seseorang yang hebat. Seseorang yang berjuang tanpa henti membawa nama Indonesia. Demi tujuan mengibarkan Sang Dwi Warna di negara tetangga. Demi tujuan menggaungkan Indonesia Raya di negara nun jauh disana.

Saatnya kuakhiri surat pendek ini.

Selamat Ulang Tahun ke-25, Kak.
Semua yang terbaik untukmu.
Tetaplah menjadi Kakak yang tidak sombong dan ramah. Tetaplah berjuang demi semua tujuan itu. Tetaplah berjuang demi seluruh rakyat Indonesia. Demi teman-teman Kakak. Demi keluarga Kakak. Dan aku yakin Kakak sadar akan hal itu.


Salam,
Sonya
<<

P.S. Ada yang kaget melihat nama di bawah surat? ^^ Saya membuat seolah surat ini ditulis oleh Sonya (tokoh di fanfiction 'Rhapsody in Pelatnas', tulisan saya, red) dan diberikan langsung pada Kak Simon. Haduuuu... ngayal lagi, deh.


R.A.
28 Juli 2010
Continue reading Surat Untuk Kak Simon Santoso :3
, ,

A Love Letter

Salam, Pembaca!

Ini adalah postingan pertama sejak saya tiba di Jogja. Memang sudah sangat lama saya tidak mengupdate blog ini, dikarenakan satu dan lain hal. Hahaha
Hmmm... tentang posting ini? Tak ada komentar apa-apa, silakan baca saja :))
Happy reading! :))


>>
Kepada yang kusayangi,

Perasaanku padamu adalah cinta. Dengan yakin kukatakan bahwa: AKU MENCINTAIMU. AKU MENYAYANGIMU.

Aku tahu cinta ini terlarang. Sebab hatimu milik orang lain. Meskipun belumlah hatinya tersentuh oleh hatimu, tapi kuyakin hatimu miliknya. Namun, salahkah aku jatuh cinta pada orang yang mencintai orang lain? Aku tidak bilang aku salah jatuh cinta. Aku senang jatuh cinta padamu. Aku juga senang karena kamulah yang 'beruntung' kucintai. AKU SENANG KARENA KAMULAH YANG KUCINTAI.

Situasilah yang salah. Bukan perasaanku. Keadaan dan waktu lah yang salah karena kamu bertemu dan jatuh cinta padanya duluan. Aku hanya terlambat jatuh cinta padamu. Terlambat bertemu denganmu. Terlambat sekian tahun untuk menemuimu.

Aku mencintaimu tanpa ada alasan tertentu. Bukankah cinta tak perlu alasan pasti? Yang aku tahu adalah aku bahagia dengan mencintaimu.

Aku mencintaimu juga tanpa takut terluka. Sebab aku sudah terbiasa terluka. Disakiti. Patah hati adalah masalah kecil bagiku. Mungkin aku hanya akan menitikkan air mata. Sudah pernah kubilang bahwa perlu lebih dari sekedar jarum dan pisau yang tajam untuk menyakitiku.

Hati ini sudah terbiasa terluka.

* * *

Hei, bolehkah aku bernyanyi untukmu?

Kuharap kamu mendengarnya. :')


Vierra - Seandainya

Kelak kau akan menjalani hidupmu sendiri
Melupai kenangan yang tlah kita lalui
Kau akan terbang jauh menembus awan
Memulai kisah baru tanpa diriku

Seandainya kau tahu
Ku tak ingin kau pergi
Meninggalkan ku sendiri bersama bayanganmu
Seandainya kau tahu
Aku kan selalu cinta
Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini


Aku berharap agar kamu selalu ada disini. Sekarang dan sampai nanti. Selalu disisiku. Jangan pergi. Agar nanti kita bisa pergi sama-sama. Bersama-sama akan jauh lebih indah kan?


Secondhand Serenade - Your Call

Waiting for your call, I'm sick, call I'm angry
call I'm desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember
Butterfly, Early Summer
It's playing on repeat, Just like when we would meet
Like when we would meet

I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious, you and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
when you are sitting next to me
will bring life into my deepest hopes

I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

And I'm tired of being all alone,
and this solitary moment makes me want to come back home
(I know everything you wanted isn't anything you have)

I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight


Aku yakin tiap orang punya jalannya masing-masing. Kalau kamu memang yang ditakdirkan-Nya, pasti akan ada jalan yang terbaik. Yang membahagiakan semua orang. Yang adil bagi semua orang.

Jalanku memang bukan jalan yang sedang aku lewati sekarang. Yang terjal, bergelombang, kerikil-kerikil tajam, dan batu-batu besar. Tapi penuh makna. Aku harus sangat berhati-hati menjalaninya. Kalau tidak, aku akan terperosok ke lubang yang sama. Aku tak mau kejadian lagi.

Jadi, apa yang harus aku lakukan?

Pindah jalur, mungkin.

Meski aku belum tahu jalur seperti apa yang akan aku tempuh nantinya. Yang jelas, jalani saja apa yang ada sekarang.

Aku juga sama sekali tak pernah berniat merusak hubunganku dengan kamu saat ini. Aku sudah berada dalam zona nyaman dan terlalu takut untuk mendobraknya, keluar dari zona itu.

* * *

Tuhan menciptakan rasa cinta yang hanya aku yang rasa. Kenapa?

Karena Dia tahu aku bahagia dengan rasa cinta itu.

Tapi, aku juga berharap lebih. Aku tak pernah bisa - dan tak akan pernah bisa - berhenti berharap. Mungkin harapanku agak terlalu egois. Namun, salahkah berharap? Dari harapan akan timbul usaha. Dan faktanya, aku sedang berusaha.

Berusaha, dan menunggu. Menunggu 'saat itu' terjadi. Berharap kamulah yang ditakdirkan oleh-Nya. Berdoa semoga harapanku terkabul.

Aku ingin selamanya bersamamu. Selamanya memelukmu. Selamanya bercinta denganmu. Selamanya memandangmu. Tak hanya dari kejauhan, tapi dari dekat. Ingin memandang jauh ke dalam matamu. Ingin mendengar suaramu. Ingin melihat senyummu. Senyum manis untukku. Senyum yang tulus dari hatimu. Senyum penuh cinta dan kasih sayang.

Aku mencintai segala hal tentangmu. :)

* * *


Jogja, 1 September 2010
16.29
R.A.
Continue reading A Love Letter
, , , , ,

Rhapsody in Pelatnas (part XIII)

Salam, Pembaca!

Di H-4 sebelum keberangkatan ke Jogja ini saya masih sempat menulis lanjutan fanfiction. Barang-barang sudah dipak, semua sudah dipersiapkan. Oh, ya, dan hari ini tadi pagi saya ke salon bersama Ibu. Potong rambut. Ehm, rambut saya jadi pendek (ya iyalah) dan agak berantakan. Seandainya saja rambut saya agak lurus, pasti akan kelihatan lebih bagus. Haha. Tapi ya sudahlah. ^^
Happy reading! :))

>>
Keadaan di dalam mobil Kido juga tak kalah riuhnya. Sebelum masuk tadi Hayom dan Ahsan berseteru tentang siapa yang berhak duduk di bangku penumpang di bagian depan. Mereka sampai memutuskan untuk suit saja.

"Uda, Pia di belakang aja ya," kata Pia duluan.

"Terseraaaah."

Pia dengan senang masuk ke bangku di belakang bangku pengemudi. Tina duduk di sebelah kiri Pia. Mereka kini menunggu Hayom dan Ahsan.

"Suit lima," kata Hayom.

"Banyak amat," tukas Ahsan. "Tiga deh."

"Oke."

Rupanya Ahsan yang menang. Dengan senang ia masuk dan duduk di bangku penumpang di depan. Hayom mengangkat bahu.

"Yah, gue kan punya janji ngejagain loe, Tin," kata Hayom begitu dia masuk dan duduk di sebelah Tina. "Setidaknya gue bisa jagain loe dari dia."

Hayom mendorong kepala Ahsan.

"Aduh," kata Ahsan. "Emang kenapa?"

"Entar mentang-mentang gak ada Hendra, loe godain Tina..."

"Gue orangnya setia, tauk!"

"Cieeee..." sindir Pia.

Tina ikut tersenyum.

"Yang mesti loe waspadain, Tin, ya cowok yang duduk di sebelah loe ini," ujar Ahsan pada Tina.

Tina terkejut dan mendadak jantungnya berdebar kencang. "Lho, kenapa, Kak?"

"Jangan loe dengerin Tin, dia pasti mau fitnah gue," kata Hayom sebelum Ahsan sempat menjawab.

"Yeee, Hayom kan setia ama Bella..." kata Pia.

"Nah, betul tuh Pi," kata Hayom, lalu mengacak rambut Pia asal. "Thanks ya."

"Thanks sih thanks, tapi jangan ngacak rambut dong," kata Pia kesal.

Hayom nyengir.

Tina tersenyum simpul. Posisinya bagus. Dia bisa dengan bebas memandangi Ahsan dari tempatnya duduk. Coba bayangkan kalau Ahsan yang duduk disampingnya. Bisa-bisa Ahsan akan mendengar degup jantung Tina yang kencang selama perjalanan.

* * *

Ponsel Tina berdering keras.

"Cieeee," kata Pia.

"Hendra ya? Hendra ya?" tanya Hayom iseng.

Tina mengangguk pelan, malu. Tanpa sadar dirinya memandang Ahsan yang duduk di bangku depan. Tampaknya Ahsan malah sibuk dengan ponselnya. Mungkin dia mengirim pesan pada pacarnya. Tina menghela napas, lalu tersenyum.

Dibukanya pesan yang baru saja masuk itu.

Kak Hendra :)
10.45
Kamu nggak apa-apa?

Tina mengernyit heran. Lalu mengetik balasannya.

Tina
10.47
Nggak apa-apa, Kak...
Emang kenapa?:)


Kak Hendra :)
10.50
Nggak, cuma... mikirin perasaan kamu aja...

Tina baru tersadar. Hendra membicarakan Ahsan.

Tina
10.54
Saya udah biasa kok Kak :)
Nggak usah cemas, hehe ^^v

Kak Hendra :)
10.57
Oooh...
Ya baguslah... :)
Kamu duduk di sebelah Hayom kan?

Tina
11.01
Iya Kak, di sebelah Kak Hayom, dari tadi heboh banget ketawanya sama Kak Pia..
:D

Kak Hendra :)
11.03
Pasti Pia yang ngelawak ya... hehehe dia emang seneng banget bikin lelucon...

Tina
11.05
Kak Pia lucu Kak... leluconnya gak abis abis... :D jadi ketawa terus...

Kak Hendra :)
11.07
Kamu juga lucu kok... gak bosen bosen dipandang... ;)

Tina
11.10
Ah Kakak, jangan gombal deh! Hehehe *padahal seneng* :p

Kak Hendra :)
11.13
Kakak serius kok Dek... hahaha

Tina
11.15
Ah Kakak kok pake ketawa sih di endingnya >.< jadi kesannya bercanda kan...

Kak Hendra :)
11.17
Iya iya Kakak serius nih... kamu lucu, manis, cantik...

Tina
11.20
*blushing* makasih Kak :") hehehe
gak ngegombal kan Kak? :P

Kak Hendra :)
11.23
Nggak dooong Kakak kan serius ;) kapan sih Kakak bercanda sama kamu? Hehehe

Tina
11.25
Aaah bener juga ya Kak hehehe. ^^

Kak Hendra :)
11.28
Kalo Kakak nggak serius, Kakak nggak akan nembak kamu... :)

Tina
11.30
:)
Sama Kak... kalo aku nggak serius, aku nggak akan nerima Kakak... :)

Kak Hendra :)
11.32
Iya Dek...
Hehehe

(kok jadi garing gini ya, red)

Tina
11.35
Nanti kita mau nonton apa sih Kak?

Kak Hendra :)
11.37
Nonton film 17 tahun keatas... hehehe

(ya ampun, Ko Hendraaaa?)

Tina
11.40
Heeee apaan coba Kak...==' seriuss doong baru tadi bilangnya serius terus sama aku... :p

Kak Hendra :)
11.43
Hahaha
Kakak nggak tahu juga Dek... nonton apa aja yang ada deh nanti di bioskopnya... hehehe
Kamu maunya nonton apa?

Tina
11.46
Jiaaah Kakak =='
Maunya nonton bareng Kakak :p

Kak Hendra :)
11.47
Tuh, malah kamu yang gombal... hehehe

Tina
11.50
Nggak apa-apa kan Kak? Hahaha
Sekali kali belajar...

Kak Hendra :)
11.55
Belajar gombal? Hehehe

Tina
11.57
:)))) <3

Kak Hendra :)
12.00
Kok cuma emoticon? :)

Tina
12.02
Nggak kenapa kenapa Kak :)

Kak Hendra :)
12.03
Hehehe
Mau tau sesuatu?

Tina
12.05
Apa Kak?

Kak Hendra :)
12.07
Saya cinta kamu... :)

Tina
12.10
Aku juga Kak... :)

Tina tersenyum kecil, lalu keluar dari mobil. Mereka sudah sampai di parkiran mall.

Dipandangnya kakak tersayangnya, yang mendatanginya dengan senyuman manis tersungging di bibirnya. Kemudian, Hendra mengulurkan tangannya.

Tina mengangkat alis.

Hendra melemparkan pandangan ayolah-sambut-saja-tanganku.

Tina tersenyum, lalu meraih tangan itu.

* * *

Sonya berjalan sendiri di belakang para senior. Di barisan depan, Hayom dan Yunus berunding seru tentang entah-apa, Kido-Bona-Pia seperti biasa memulai perdebatan antar-saudara, Nitya-Shendy-Febe mengobrol tentang liburan mereka, Hendra dan Tina berada dalam dunia mereka berdua, Greys dan Maria saling sindir tentang cowoknya masing-masing - Simon yang berjalan di sebelah Maria cuma geleng-geleng kepala mendengarnya.

Dan tinggallah Sonya sendirian di belakang, sibuk dengan pikirannya sendiri.

Simon melepaskan diri dari dua gadis - terutama Greys yang menyindir-nyindirnya tentang Maria - dan berjalan mundur ke belakang menjejeri Sonya.

"Kok melamun?" tanya Simon sambil tersenyum.

Sonya tersentak dan menoleh seketika ke arah suara. Dan betapa kagetnya ia melihat Simon memandangnya hangat. "Hah? Oh..." dia buru-buru menurunkan pandangannya. "Nggak kok, Kak..."

"Lhoo..." kata Simon. "Saya lihat sendiri kamu ngelamun kok."

Sonya menolak mempercayai fakta bahwa 'Simon melihatnya' - 'Simon mengamatinya' - 'Simon memperhatikannya'.

"Hahaha... bagaimana Kakak tahu kalau saya ngelamun?" balas Sonya.

"Ekspresi kamu," jawab Simon simpel. "Mata kamu memandang tanpa melihat."

Alis Sonya terangkat. "Begitu ya Kak?"

"Ya, pandangan kosong. Entah apa yang kamu pikirkan," tambah Simon.

Kemudian diam. Sonya menunggu. Dia yakin Simon belum selesai.

"Boleh saya tahu?" lanjut Simon kemudian.

Ini dia pertanyaan yang Sonya tunggu-tunggu.

Tapi Sonya tak mau terdengar terlalu terburu-buru.

"Tahu apa Kak?"

"Tahu Sumedang... heheheh."

(waduuuh, Kokoooo ==' bercanda deeeh)

Sonya manyun. "Serius Kak..."

"Iya, maksud saya tahu apa yang lagi kamu pikirkan..."

"Saya lagi mikirin tahu gejrot Kak... tahu kan Kak? Pake cabe yang banyak, pasti enak deh..."

"Yaaah giliran saya yang serius malah kamu yang bercanda..." Simon tertawa sembari menggelengkan kepalanya.

"Kan gantian Kak... barter, heheh."

"Dasar kamu..." Simon mengacak rambut Sonya.

Sonya dan Simon tertawa agak keras sehingga membuat Greys dan Maria yang berada di depannya menoleh penasaran ke belakang.

Waktunya sangat tidak tepat. Rasa senang Sonya bercampur dengan rasa gelisah karena ekspresi Maria tidak bisa ditebak melihat Simon mengacak - agak terlihat seperti mengelus - rambut Sonya.

* * *

to be continued...

Disclaimer: maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca, ini sekali lagi, hanya khayalan saya, tidak ada hubungannya dengan cerita, tempat, waktu, dan orang yang bersangkutan. :)) Murni untuk kepentingan hiburan saja.

P.S. maaf kelamaaan! >.< ini karena satu dan lain hal yang terjadi. Makasih banget buat temen-temen yang mau baca, dan mau ngewall saya buat nanyain kapan kelanjutan fanfiction ini. Saya bener-bener terharu :') makasih makasih makasih makasih makasih sejuta kali buat penghargaan kalian kepada fanfiction saya. :')

R.A.
17 September 2010
Continue reading Rhapsody in Pelatnas (part XIII)

Rabu, 04 Agustus 2010

, , , , ,

Rhapsody in Pelatnas (part XII)

Salam, Pembaca!

Kali ini saya tidak bisa memikirkan kata pengantar yang cukup bagus.
Happy reading! :))

>>
Hendra dan Febe mengobrol seru di bangku belakang. Simon kadang mengomentari topik pembicaraan mereka. Sonya cuma terdiam dan tertawa sedikit kalau memang ada yang lucu.

Gadis itu memandang keluar jendela, tapi tidak melihat. Melamun begitu saja. Kemudian Sonya sadar bahwa dirinya kelihatan seperti sedang bengong, bukan memikirkan sesuatu. Akhirnya ia memasang headset-nya dan memainkan lagu Beautiful Girls dari Sean Kingston di iPod-nya.

Simon selesai tertawa karena baru saja Febe membacakan sebuah tweet dari timeline-nya tetang lelucon cowok gombal. Kemudian diliriknya Sonya yang tak bereaksi.

"Sonya...?" tegur Simon, masih agak geli. "Kenapa melamun?"

Sonya masih tidak bereaksi.

"Sonya, dipanggil tuh," kata Febe yang duduk di belakang bangku Sonya. Ditepuknya bahu juniornya itu.

Sonya tersentak dan menghadap ke belakang. "Eh, kenapa Kak?" tanyanya sambil melepas headset.

"Kirain ngelamun," kata Simon tertawa, sambil menyalakan sen untuk berbelok ke kanan.

"Ternyata dengerin musik ya," ujar Febe. "Pantesan hening kamu dari tadi."

"Hehe maaf, Kak..." Sonya nyengir pada Febe, yang mengangguk.

"Sayang ya Mon, Marsel gak semobil sama kita," kata Febe.

"Ah, biasa aja kok..." elak Simon.

"Kalo dia semobil sama kita kan mantep tuh," lanjut Febe kemudian.

"Mantep gimana maksud loe?" tanya Simon, memandang Febe melalui kaca depan. Sonya mendengarkan. Hendra mendengarkan.

"Gue bisa nyindir-nyindir kalian," Febe nyengir minta maaf.

"Haah, dasar loe," kata Simon.

"Terus kapan loe mau nyatain?" tanya Febe.

"Nyatain apa?"

"Cinta dong."

"Sama?"

"Pake ditanya. Ya jelas sama Marsel! Bukannya loe suka sama dia? Loe bilang sendiri kan waktu makan dulu itu," terang Febe.

"Kirain cuma gosip lho Kak," timpal Sonya tiba-tiba, tersenyum.

Simon mengangkat alisnya mendengar perkataan Sonya. Hendra yang selama ini menunduk dan memainkan ponselnya, langsung mendongak memandang Sonya.

"Eh... yeah..." Simon mendadak gagap. "Seperti yang... udah pernah gue bilang... belum pasti..."

"Yeeh, udah disuruh pastiin, juga!" kata Febe kesal. "Jangan ngasih harapan kosong, dong Mon..."

"Gue nggak ngasih harapan," ujar Simon pelan, sadar bahwa ketiga orang yang ada di mobil itu mendengarkan.

Sonya tersenyum pahit ketika Simon menghentikan mobilnya di sebuah konter pulsa di pinggir jalan.

"Bentar ya gue beli pulsa dulu," kata Simon. Sonya masih sempat membuka sedikit jendela disampingnya untuk mendapatkan udara segar. Dipasangnya lagi iPodnya.

Harapan kosong. Kenapa kata-kata itu begitu menusuk?

Kemudian Sonya baru sadar kalau dari tadi iPod-nya memainkan lagu indah yang sudah dikenalnya. Agnes Monica - Karena Ku Sanggup.

Dibiarkannya lagu itu mengalun.

biarlah ku sentuhmu
berikan ku rasa itu pelukmu
yang dulu pernah buatku
ku tak bisa paksamu
tuk tinggal disisiku
walau kau yang selalu sakiti aku
dengan perbuatanmu

namun sudah kau pergilah
jangan kau sesali

karena ku sanggup
walau ku tak mau
berdiri sendiri tanpamu

ku mau kau tak usah ragu
tinggalkan aku
kalau memang harus begitu

tak yakin ku kan mampu
hapus rasa sakitku
ku slalu perjuangkan cinta kita
namun apa salahku
hingga ku tak layak dapatkan
kesungguhanmu

karena ku sanggup
walau ku tak mau
berdiri sendiri tanpamu

ku mau kau tak usah ragu
tinggalkan aku
kalau memang harus begitu

tak perlu kau buat aku mengerti
tersenyumlah
karena ku sanggup

Lagu itu berakhir.

Ya, benar. Aku sanggup. Meski aku benar-benar tak mau. Aku tak ingin dia meninggalkanku.

Sonya bahkan tak sadar matanya digenangi air mata mendengar reff lagu itu. Dia juga tak sadar sedari tadi dia memandangi Simon yang menghampiri konter pulsa, mengeluarkan dompetnya, membayar pulsanya, dan berlari kembali ke bangku pengemudi.

Dia juga tak sadar Simon sudah masuk mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.

"Wah, gila nih bisa tekor gue kalo nelpon loe terus, Feb," keluh Simon.

"Makanya pake operator yang sama kayak punya gue dong. Gratisan!" kekeh Febe berpromosi.

"Gue juga. Tina pake operator yang beda. Jadinya... sekali tiga hari gue harus isi pulsa," sela Hendra.

"Emang loe isi berapa sekali isi?" tanya Febe.

"Dua puluh lima ribu."

"Gokil loe Ndra."

Febe dan Hendra tertawa.

Simon menyalakan mobilnya. "Sonya? Kok nangis?" tanyanya pada juniornya.

"Hah?" Sonya melongo bego. "Kelilipan, Kak, hehe."

"Kamu sih pake dibuka segala jendelanya," kata Simon.

"Haha iya Kak, aku tutup lagi deh."

Dan waktu Sonya menutup jendela, angin kencang berhempus, meniupkan setitik kecil debu ke mata Sonya. Dia benar-benar kelilipan sekarang.

"Aduh," jerit Sonya kecil. Air matanya mengalir lagi.

"Dasar kamu," kata Simon menggeleng-gelengkan kepalanya. "Masa bisa sampe dua kali kelilipan. Aku tiupin sini."

Sonya bertindak refleks menghadap Simon yang kemudian meniup matanya.

"Awas jangan diucek dulu! Ntar malah tambah perih," cegah Simon begitu melihat tangan Sonya bergerak mendekati matanya. "Fuuuh."

Sonya mengejap-ngejapkan matanya yang mengeluarkan air mata yang tak terbendung. Perih karena kelilipan dan perih karena mendengar lagu yang barusan didengarnya.

"Heboh banget nangisnya," komentar Simon. Lalu ditiupnya lagi mata Sonya.

"Sakit, Kak," gumam Sonya pelan, mencoba mengalahkan jantungnya yang berdebar kencang.

Simon mengawasi Sonya yang mengipas-ngipas matanya dengan tangan. Kemudian dia baru sadar bahwa sejak tadi Febe dan Hendra terkikik.

"Ada apa?" tanya Simon.

"Nice picture," cengir Hendra, memamerkan layar handphone-nya yang menampilkan foto tampak samping Simon yang sedang meniup mata Sonya.

Febe tertawa. "Apa reaksi Marsel kalau dia ngeliat foto ini, ya..." katanya iseng.

Simon manyun. Dia bingung memilih antara meminta Hendra dan Febe menghapusnya atau membiarkan mereka menunjukkan foto itu pada Maria. Kalau dia meminta Febe menghapusnya, dia takut menyakiti perasaan Sonya. Kalau ia membiarkan foto itu dilihat Maria, dia takut Maria salah paham.

Tunggu, pikir Simon. Kenapa aku takut menyakiti perasaan Sonya?

Tetapi rupanya Simon tak perlu mengatakan apa-apa. Sonya sudah bertindak duluan.

"Apa, Kak? AAAH! HAPUS DONG, KAK..." pinta Sonya memelas. Matanya masih merah. Dia berusaha merebut handphone Hendra.

"Eit," Hendra berkelit. "Harus ada persetujuan antara kedua belah pihak."

Febe nyengir. "Mon, loe setuju kalo dihapus?"

Simon pura-pura sibuk menyetir. "Apanya?"

"Foto kalian," jawab Hendra dan Febe berbarengan.

"Terserah loe pada deh... tapi kalau loe simpen, jangan liatin ke Marsel," tambah Simon kemudian. Dia puas karena memang keputusan itulah yang adil untuk semua.

"Setuju, Sonya?" tanya Hendra.

Sonya menggeleng. "Hapusin, Kak..." katanya, memandang Febe dan Hendra dengan wajah memelas, matanya berkaca-kaca karena masih merasa perih. Tolong hapus saja semua kenangan itu, katanya dalam hati.

Simon melirik Sonya. "Ya udah... hapus aja..." ujar Simon akhirnya.

"Kalau kayak gini kan nggak ada yang sakit..." gumam Sonya pelan, nyaris tak terdengar oleh tiga seniornya.

"Apa, Sonya?" tanya Febe bingung. "Nggak kedengeran."

"Nggak ada Kak, hehe."

Hendra menekan tombol 'yes' ketika muncul pertanyaan 'Are you sure you want to delete this photo?' di ponselnya. Sonya memandangi ketika ponsel itu memproses penghapusan.

Photo deleted!

* * *

to be continued...

Disclaimer: maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca, ini sekali lagi, hanya khayalan saya, tidak ada hubungannya dengan cerita, tempat, waktu, dan orang yang bersangkutan. :)) Murni untuk kepentingan hiburan saja.

P.S. Ehm, saya juga mau tuh ditiupin matanya sama Kak Simon :p duasarr... Ini agak lebih pendek dari yang part 11, ya. Saya memang nggak konsisten menetapkan panjang tulisan saya. Dia ngalir begitu saja, dan berhenti dimana saya mau menghentikannya. Ya iyalah. Kan saya yang nulis. :D

R.A.
4 Agustus 2010
Continue reading Rhapsody in Pelatnas (part XII)
, , , , ,

Rhapsody in Pelatnas (part XI)

Salam, Pembaca!

Ada jeda yang sangat panjang antara fanfiction part 10 dan 11, hal ini dikarenakan daya imajinasi saya berkurang sangat pesat (?). See, ini sudah bulan Agustus, tanggal 3, pula. Terakhir kali saya bikin part 10 itu tanggal 27 Juli.
Oh ya, dan saya juga ngepost fanfiction ini di note facebook saya. Baru sampe part 2 karena saya mau ngeliat gimana tanggapan temen-temen BL. Harap menunggu dengan sabar untuk part 3 dan 4 di note, ya... dan buat yang udah baca di blog, harap bersabar menunggu part 11 dan selanjutnya... saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Happy reading! :))

>>
Tina membangunkan Sonya keesokan harinya. "Sonyaaa. Sonyaaa."

Sonya menggeliat sebentar, lalu membalikkan badan.

"Sonyaaaa."

Sonya tidak merespon.

Tina manyun, lalu pergi ke kamar mandi. Diambilnya segayung air dan dipercikkannya ke muka Sonya. It works. Sonya bangun.

"TINAAA! APAAN SIH!"

Tina tertawa terbahak-bahak. Sonya lompat dari tempat tidur dan mencoba menangkap Tina. Yang, gagal, karena Tina berlari menghindar. Alhasil mereka kejar-kejaran di kamar, berteriak-teriak. Tina meraih bantal dan menggebuk Sonya. Sonya mencari guling dan membalas Tina. Perang bantal pun dimulai.

"Sakit, tauk!" kata Tina, tapi dia tertawa.

"Biarin! Orang lagi enak-enak tidur!" balas Sonya.

"Cewek gak boleh bangun siang!"

"Teori darimana tuh?"

"Teori nyokap!"

Sonya tertawa. Kemudian dia, yang pendengarannya tajam, mendengar suara pintu diketuk. Dia lari ke pintu dan membukanya. Tina mengikuti sambil tetap menggebuki Sonya.

Tepat saat Sonya membuka pintu sambil menghindari gebukan bantal Tina, Sonya sadar tepat pada waktunya bahwa Tina akan melempar bantalnya. Sonya merunduk.

Sayang sekali lemparan Tina mengenai orang yang mengetuk pintu. Seketika lorong di depan kamar mereka penuh tawa.

"Strike," kata Pia tertawa.

Greys sampai terbungkuk-bungkuk dan harus memegangi perutnya sambil mencengkram bahu Maria saking hebohnya dia tertawa.

"Ya ampun, Kak, maaf..." Tina kaget melihat orang yang dilemparnya adalah Shendy.

"Lho, Kakak sudah datang," Sonya menahan tawanya. "Gimana liburannya, Kak?"

Shendy menurunkan bantal Tina, lalu ikut tertawa bersama teman-temannya. "Asik deh pokoknya..." (anggap saja Ci Shendy baru datang karena selama ini dia sedang pulang ke kampungnya, red)

"Ada Kak Nitya jugaaa," Sonya memeluk seniornya itu.

"Aduh Kak, maaf banget..." kata Tina takut.

"Santai aja kali. Kalian berisik banget," kata Shendy tertawa. "Mau ikut jalan nggak?"

Sonya memandang Pia, Greys, Maria, Febe, Shendy, dan Nitya di depannya. "Kemana, Kak?"

"Ke mall aja, refreshing. Kita kan libur hari ini. Sekalian menyambut kedatangan Shendy dan Nitya..." jelas Maria.

"Bersegini aja, Kak?" tanya Tina, menghitung jumlah mereka. "Berdelapan?"

"Yang ceweknya cuma kita aja. Butet ama Vita sibuk. Yang lainnya pada mau tidur," kata Pia.

"Cowoknya ada pacar kamu," Febe melirik Tina yang tersipu malu. "Terus Simon, Hayom, Bona, Ahsan, Kido..."

"Age, Alvent, Yunus..." tambah Maria.

"Ikut, Kak," kata Tina langsung.

Sonya terheran-heran. "Kak Frans gak ikut Kak?" tanyanya pada Greysia.

"Mau istirahat katanya..." Greys mengangkat bahu.

"Kamu ikut nggak? Sepi lho disini," kata Nitya.

"Boleh deh, Kak... tapi aku belum siap-siap..." jawab Sonya malu.

"Dia baru bangun, Kak. Tadi aku bangunin malah ngamuk-ngamuk. Tuh kamar sampe berantakan," kata Tina, yang langsung disikut Sonya. "Aduh," ringisnya.

"Hahaha kalo gitu kita tunggu aja di dalem sambil bantuin beresin kamar kalian sementara Sonya siap-siap..." saran Maria. (duh, Mbak Sel, baik banget deh!) Semuanya setuju.

"Emang seberantakan apa sih?" Nitya melongok kedalam kamar dan matanya memandang ke sekeliling ruangan. "Ya, ampuuun..."

Selimut mereka berserakan di lantai, bantal-bantal tak beraturan dimana-mana, seprei tersingkap lebar. Sonya dan Tina nyengir malu.

Maria tertawa. "Ya sudah, kamu siap-siap sana..."

Sonya berlari ke kamar mandi.

* * *

Saat Sonya selesai dan kamar mereka sudah dirapikan dengan usaha gabungan Tina, Maria, Greys, Pia, Febe, Shendy, dan Nitya, handphone Maria berbunyi dengan ringtone Ne-Yo - Because of You. (ehm, mengarang bebas, red)

Incoming call -->
SimonMon (lagi-lagi mengarang bebas, red)

"Halooo?" jawab Maria.

"Mar? Kamu dimana?" tanya Simon.

"Aku di kamar Sonya sama Tina nih... kamu?"

Simon agak tertegun. Tapi dia langsung melanjutkan pembicaraan. "Kita udah di halaman depan... buruan dong! Kalau sempet kita masih bisa nonton sebelum makan siang."

"Oh, iya iya. Semuanya udah disana?" tanya Maria memastikan.

"Kecuali kalian yang cewek-cewek," ujar Simon.

"Oke, kami kesana secepatnya."

"Sip."

Simon memutuskan hubungan teleponnya.

Call ended
Marsel
00.30

"Dimana mereka?" tanya Kido, mengecek arlojinya setiap lima detik.

"Eh... di kamar Sonya dan Tina," jawab Simon tanpa memperhatikan Kido, masih sibuk dengan ponselnya, mengecek sisa pulsa. "Wah, beneran pulsa gue tinggal seribu. Bang, ntar gue mampir dulu di konter pulsa, ya..." kali itu Simon baru melihat Kido dan dia menyadari bahwa Kido sedang memandangnya aneh.

Kido mengangguk singkat, lalu mondar-mandir. Bona seperti biasa sedang mengobrol seru dengan Ahsan, Hendra sedang mendengarkan iPod-nya sambil bersandar di mobilnya, Alvent memainkan entah-apa di iPhone-nya, Age membaca majalah sport, Yunus dan Hayom mengerjakan teka-teki silang di koran yang digelar di atas kap mobil Kido.

Simon agak salah tingkah. Dia paham betul arti pandangan Kido padanya tadi.

Sementara itu di kamar Sonya dan Tina, suasana malah semakin riuh rendah karena Pia dan Greys sudah mulai menyindir-nyindir Maria yang ditelepon Simon.

"Cieeeee... kok pake aku-kamu, Sel?" tanya Febe. "Ada angin apa nih..."

"Biasanya pake loe-gue deh..." tambah Greys iseng.

"Mbak Sel," Shendy menjawil rambut Maria. "Nggak bilang-bilang ya."

"Apaan?" bantah Maria. "Wajar dong dia telepon, kan nanya kita lagi ada dimana, kita ditungguin tuh sama mereka..."

"Yang nggak wajar itu dia nelepon Mbak Sel..." sindir Nitya.

Pia tertawa. Tina memandang Sonya yang terlihat bengong. Tapi, Sonya lalu ikut tertawa.

"Hayoo Mbak..." Sonya ikutan.

Tina mengangkat alisnya. "Kalau gitu... eh... kita kesana sekarang aja yuk, Kak... emm... Kak Hendra barusan sms aku... katanya suruh cepetan..."

Sontak kamar itu penuh dengan gurauan lagi.

"Tuh, kan, Sel... Tina di-sms Hendra, mereka kan memang pacaran, makanya Hendra ngirim pesan ke Tina..." kata Greys.

"Tandanya dia cemas..." sambung Pia.

"Karena pacarnya nggak muncul-muncul..." tambah Nitya.

"Berarti itu juga yang terjadi sama Simon..." kata Shendy.

"Cemas karena calon pacarnya nggak muncul-muncul..." sambung Febe.

Mereka tertawa lagi. Maria hanya manyun. (Mbak Sel mau manyun pun tetep cantik, red)

"Sudahlah... ayo kita turun," ajak Maria.

Mereka beriringan keluar kamar Sonya dan Tina. Tina sengaja membiarkan keenam seniornya berjalan duluan di depan agar dia bisa leluasa mengobrol dengan Sonya.

"Kamu yakin mau ikut?" tanya Tina ketika ia mengunci pintu, dan Sonya menunggunya.

"Tentu saja. Aku butuh refreshing," jawab Sonya pasti.

"Berani nanggung resikonya?" tanya Tina.

"Apa?"

"Sakit hati."

"Ah, basi," katanya Sonya, melambaikan tangannya seolah meremehkan.

"Kamu mulai bisa terima, ya?" tanya Tina sementara mereka berjalan di lorong.

Sonya mengangkat bahu. "Begitulah."

Tina manggut-manggut.

"Baguslah kalau begitu."

* * *

Kido cemberut melihat rombongan putri datang dengan santai sambil mengobrol.

"Pia," panggilnya pada adiknya.

"Ya, Uda?" jawab Pia tersenyum.

"Jam sepuluh! Kami menunggu setengah jam!" katanya kesal.

Pia nyengir. "Maaf, Da..."

Bona tertawa. "Udahlah Da. Mending kita putuskan siapa yang mau naik mobil Uda, yang mau naik mobil Simon, yang naik mobil Shendy..."

"Kami yang cewek semua ikut Shendy," kata Febe langsung. "Pas berdelapan! Dua di depan, tiga di tengah, tiga di belakang..." (ceritanya mobil Shendy model kapsul gitu, red)

"Ah! Nggak seru!" kata Alvent. "Garing kalo cowok semua dalam satu mobil."

"Kita hompimpah aja," usul Yunus. "Tapi nggak ada yang boleh nolak."

Mereka langsung setuju.

"Oke, hompimpah pertama, yang telapak tangan menghadap ke atas naik ke mobil Shendy," atur Kido. "Berapa muatnya Shend? Delapan orang?"

Shendy mengangguk. "Delapan orang sama gue."

"Sisanya masuk mobil gue sama Simon," kata Kido. "Dibagi dua."

Semuanya manggut-manggut. Mobil Kido dan Simon (ceritanya, red) adalah mobil sejenis sedan.

"HOM PIM PAH ALAIHUM GAMBRENG!!" (oh, kenapa saya tertawa waktu menulis kalimat ini?)

*karena akan sangat panjang sekali kalau dirinci satu persatu, maka kita langsung saja ke hasil pembagian*

Akhirnya yang masuk mobil Shendy adalah Maria, Alvent, Bona, Greys, Yunus, Age, dan Nitya. Sementara yang masuk mobil Kido adalah adiknya sendiri, Pia, Ahsan, lalu Tina, dan kemudian Hayom. Sonya mendapat jackpot dengan menumpang mobil Simon bersama Hendra dan Febe.

"Yaah," ujar Tina sendu, memandang Hendra.

"Tenang saja," kata Hendra, menepuk bahu Tina.

"Gue jagain," canda Hayom. Lalu mereka menumbukkan tinju mereka.

"Pssst," bisik Sonya sebelum Tina masuk mobil. "Agak gelisah ya?"

Tina mengangguk. Dia harus semobil dengan orang yang pernah ditaksirnya, Ahsan.

"Rileks. Santai," saran Sonya.

"Kamu juga," kata Tina, nyengir memandang Simon, yang sedang disindir-sindir Greys dan Febe karena tidak bisa semobil dengan Maria.

Sonya menghela napas. "Asal nggak duduk di sebelahnya aja..."

Tetapi rupanya jackpot Sonya tidak berakhir disitu saja. Hendra dan Febe ternyata sudah menduduki bangku belakang selagi Sonya bicara dengan Tina. Tinggallah bangku kosong di depan untuk - siapa lagi? - Sonya.

"Sonya?" panggil Simon yang sudah duduk di kursi pengemudi. "Kok nggak masuk?"

Sonya benar-benar tidak bisa percaya ini.

* * *

to be continued...

Disclaimer: maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca, ini sekali lagi, hanya khayalan saya, tidak ada hubungannya dengan cerita, tempat, waktu, dan orang yang bersangkutan. :)) Murni untuk kepentingan hiburan saja.

P.S. Rupanya cerita ini panjang juga ==' dan banyak sekali khayalan disini... silakan tunggu part 12-nya, ya... terima kasih...

R.A.
3 Agustus 2010
Continue reading Rhapsody in Pelatnas (part XI)